TERHALANG RINDU DUA DUNIA

Biasanya setelah pulang dari shalat Ied, kami berkumpul di rumah melakukan tradisi sungkeman, tumpah ruah segala tangis dan permintaan maaf. Salah satunya aku, yang tak bisa berkata apa-apa, selain menitikkan air mata penyesalan.
Ajaibnya tradisi sungkeman, setelah berderai air mata, hidung dan mata merah, kami tertawa bersama, bercanda lepas dan begitu riangnya, seolah beban berat di pundak yang berton-ton beratnya lepas sudah.
Saatnya makan bersama keluarga, meski menu sederhana namun terasa istimewa.
Ada yang kurang, ada yang hilang. Sejenak aku menghela nafas. Memandang sekitar, terhenti di tempat duduk favorit Mbah Kakung dan Mbah Putri. Ayah dan Ibu dari Mamah kandungku telah berpulang ke surga-Nya. Allah lebih sayang mereka, setelah sakit yang tak seberapa lama.
“ Kangen Mbah.” Lirihku
Semua terdiam, menundukkan kepala, tak ada yang bersuara. Sadar akan hal itu, aku mencairkan suasana.
“ Nanti nyekar sekalian kan Mah? “ Tanyaku
“ Iya nanti sekalian Nduk. “

Mbah Kakung dan Mbah Putri adalah sosok yang sangat berarti di hidupku, Beliau adalah orang yang menjagaku, karena Mamah bekerja. Mbah adalah orang sangat sabar, tak pernah sekalipun marah, membentak, apalagi berkata kasar. Bahkan tak pernah sekalipun main tangan. Ternyata Allah menciptakan makhluk dengan rasa sabar yang luar biasa. Aku ingin seperti Mbah, yang punya rasa sabar tak berbatas. Mungkinkah?

Aku siap belajar. Bismillahirrahmanirrahim.


Tiba di pesarean, kami segera membersihkan makam Beliau berdua, mencabuti rumput, mengelap nisan mereka, sambil sesekali mengenang, tersenyum simpul, lalu berubah menjadi sesal, teringat kenakalanku dulu.

Bersambung**

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu