TERHALANG RINDU DUA DUNIA

Bagian 02

Tiba di pesarean, kami segera membersihkan makam Beliau berdua, mencabuti rumput, mengelap nisan mereka, sambil sesekali mengenang, tersenyum simpul, lalu berubah menjadi sesal, teringat kenakalanku dulu.

Bersih sudah semua, kami duduk melingkar. Anak-anak Mbah hadir, semua terdiam seakan tertelan kesepian. Masing-masing berdoa, di pimpin Mamahku anak tertua. Setelahnya mereka mengungkapkan kerinduan mereka dalam hening.
Di taburkan bunga dan air.
Indah, segar, dan terlihat sumringah. Seperti aku melihat rumah yang baru saja dibersihkan.
Kami beranjak pulang, namun Mamahku masih enggan.
“ Mah, ayo kita pulang? “
“ Duluan saja Nduk, nanti Mamah nyusul belakangan. “
Ahhh … Mungkin Mamah masih rindu.
Aku berhenti beberapa langkah dari makam Mbah, menunggu Mamah.
“ Pak, Bu.. Bahagia di sana ya, sudah bertemukah kalian? Aku kangen.” Mamah berusaha menahan agar air matanya tak turun.
“ Puasa tahun ini lancar, adik-adik berkumpul, cucu-cucu semuanya sehat. Anakku Bagus sudah menikah Pak, Bu. Istrinya sudah hamil, satu bulan lagi melahirkan. “
Aku terhenyak, sebegitu rindunya Mamah akan orang tuanya. Di ajaknya mereka bercerita seakan mereka sedang mendengarkan di dunia nyata.
“ Maaf ya Pak, Bu kami belum bisa membahagiakan dan membalas semua kebaikan kalian, maaf bila aku dan adik-adik menoreh luka di hati kalian semasa hidup.”
Mamah bersimpuh, lalu mengatupkan kedua mata, menengadahkan tangan, Mamah berdoa untuk yang kesekian kalinya. Belum puas rupanya. Aku sabar menunggu, dan aku mendapat pelajaran baru.
Kembali di sapunya makam Mbah dengan ijuk lidi, padahal sudah bersih. Seolah Mamah tak ingin beranjak pergi.
“ Ayo Mah, sudah siang. Yang lain udah nungguin di bawah.”
Sepanjang perjalanan menuju halaman parkir, ku genggam tangan Mamah erat, beliau hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung tanganku. Mungkin Mamah tahu apa yang kurasakan, apa yang kupikirkan.
“ Jangan pernah sia-siakan kesempatan yang ada Nduk.”
Hanya sepenggal kalimat itu yang keluar, setelah kami banyak berdiam. Namun berarti dan menggelitik hatiku.
Janji Mah, Inshaa Allah aku akan berusaha yang terbaik untukmu.
Hanya hatiku dan Allah yang mendengar, ya Allah mampukan aku membahagiakan orang tuaku.
Satu pesan dari Mamah yang tak akan ku lupa.
“Memayu hayuning pribadi, memayu hayuning kulawarga, memayu hayuning sesama, memayu hayuning bawana.”

SELESAI.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu