Terbuai Angan

[Citra … Aku nggak tahu ini benar atau salah. Tapi aku berusaha untuk jujur sama kamu.]

[Maksud kamu, Fer?]

[Jujur, aku seneng sama kamu, Cit. Aku mulai sayang sama kamu. Aku tahu pacaran itu haram, Cit.Tapi kalau aku janji kita nggak berdua-duaan, apa kamu mau menerimaku jadi seseorang paling istimewa?]

Hati Citra berdegup kencang saat membaca pesan di Whatsapp. Ferdi, rekan kerja yang diam-diam ia kagumi, mempunyai perasaan cinta padanya. Namun bagaimana dengan reaksi teman-teman di kantor. Bukankah ada peraturan dilarang mempunyai hubungan dengan rekan sekerja, di yayasan? Yayasan atau kantor tempat Citra bekerja adalah bagian dari sebuah pesantren, sehingga kental dengan suasana Islami.

[Kalau memang kamu masih bingung, nggak apa-apa. Kita coba jalani dulu aja, gimana? Siapa tahu kita berjodoh.]

Entah mengapa Citra menyetujui usul itu. Melupakan logika dan ilmu agama yang ia punya. Membiarkan hati menyetir pikirannya sendiri. Menjalani hari dengan bunga-bunga di hati, diam-diam gadis itu sering mencuri pandang pada Ferdi saat jam kantor.

Kedekatan mereka berawal dari acara bakti sosial saat Citra dan Ferdi menjadi Sekretaris serta Ketua. Komunikasi antara ikhwan dan akhwat yang seharusnya hanya dalam acara atau pekerjaan, berlanjut sampai kehidupan pribadi. Diam-diam Ferdi sering mengirim pesan penuh perhatian pada Citra.

Citra seperti terlena tiga bulan terakhir ini. Hingga ia lupa konsep menundukkan pandangan, yang sering dibahas dalam taklim mingguan khusus akhwat, di kantornya. Gadis berwajah imut bak artis Korea itu pun melupakan materi kajian pra nikah yang pernah diikutinya, bahwa sebaik-baiknya menjemput jodoh dengan cara ta’aruf, bukan dengan pacaran.

Sampai siang tadi Citra mendengar gosip di kantor bahwa Ferdi sudah melamar seorang gadis di kampungnya. Citra kaget, serta kesal dan sedih. Ia memutuskan akan mengirim pesan pada Ferdi selepas jam kerja.

[Ferdi, tolong jawab jujur ya.]

[Kenapa, sayang?]

[Kamu udah ngelamar cewek ya?]

Balasan pesan dari Ferdi tak kunjung masuk. Butiran air mata mulai turun di pipi tirus Citra. Betapa naif dirinya, begitu gampang menerima ajakan pacaran, pikir Citra sambil terisak menunggu balasan Ferdi.

Setengah jam berlalu, belum ada balasan sama sekali. Gadis berkerudung panjang itu memutuskan untuk menelepon Ferdi.

“Assalamualaikum, Fer.”

“Wa-waalaikumussalam. Iya Cit?”

“Kamu belum jawab WA aku dari tadi. Jadi, gosip itu benar?”

“Gosip apa sih Cit?”

“Kamu udah ngelamar dan tunangan sama perempuan lain. Terus kamu anggap aku itu apa? Kamu nggak ada niat serius sama aku ya, Fer?”

Terdengar hembusan nafas panjang dari telepon yang diiringi kata maaf dari Ferdi. Pria berambut cepak itu beralasan orang tuanya yang menyuruh ia menikah dengan gadis ini karena hutang budi keluarga. Air mata terus mengalir saat Citra memutuskan sambungan telepon. Ada pesan WhatsApp masuk dari Ferdi.

[Maafin aku, Cit. Aku nggak bisa melawan keinginan orang tua. Tapi jujur, di hatiku tuh cuma ada kamu ….]

[Simpan semua gombalan untuk istrimu nanti, Fer!]

Dengan tergesa Citra memblokir nomor Ferdi serta menghapus semua pesannya. Mungkin ini cara Allah menegurku karena sudah pacaran, sudah melalaikan Allah dengan lebih sering memikirkan Ferdi, dan ini termasuk zina hati, pikir Citra masygul sambil beristighfar dan terisak.

Cimahi, 26 Maret 2020