TENTANG LUKA MASA KECIL (INNER CHILD)

Mudah marah, tersinggung, merasa tidak berguna,  antikritik, minder, mudah cemas,seringkali menyalahkan orang lain atau keadaan, menuntut selalu diperhatikan dan merasa tidak puas dengan kasih sayang yang diberikan orang lain, hingga merasa lelah dengan diri sendiri. Beberapa sikap negatif diatas pernah saya alami, bisa saja terjadi juga pada anda, Mungkin diantara kita pernah bertanya. Aku ini kenapa?

Banyak orang yang mengalami hal semacam itu tapi tidak semua orang menyadari bahwa perilaku-perilaku diatas merupakan efek dari pengalaman masalalu yang belum terselesaikan. Atau bisa disebut ada inner child dalam diri kita yang belum mendapatkan perhatian dan penanganan.

Apa itu inner child?
Mentor Kelas Mengasuh inner child, penyintas depresi dan bipolar, Ribka ImaRi menjelaskan dalam grup Whattapp Maret 2020 lalu saat saya mengikuti kelasnya.

Inner Child adalah Reaksi kita saat dewasa pada orang lain (pada orangtua, saudara kandung, suami, anak, saudara ipar, sahabat, tetangga, dan lain-lain) semua berakar dari apa yang kita dengar, lihat dan alami sewaktu kita kecil. Reaksi ini muncul dari anak dalam diri kita, atau jiwa masa kecil kita yang bernama inner child (IC).

Kita semua punya IC yang membuat kita bereaksi kuat terhadap sesuatu, tanpa sepenuhnya menyadari “kenapa?”.

Inner child adalah sisi kepribadian kita yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil. (On Marissa’s Mind : Menyembuhkan Luka Masa Kecil. http://youtu.be/-e_DWK0bv3w.

Bagaimana Inner Child bisa terluka?
Mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan ketika masih kecil. Akan membuat inner child terluka. Alam bawah sadar merekam semua kejadian itu dan mengendap dalam diri seseorang. Ketika dewasa, jika ada pemicu kelebatan masa kecil maka akan menjadi monster mengerikan. Misal seseorang menjadi mudah marah-marah tak terkendali, kurangnya rasa empati kepada sesama, mudah melakukan kekerasan di kehidupan dewasanya.

Apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkannya?

Di Kelas Mengasuh Inner Child yang dimentori oleh Ribka ImaRi beliau mengajarkanku untuk KEMBALI MENGUNJUNGI JIWA MASA KECIL. Merasakan kembali luka-luka yang pernah diamali ‘seorang anak’ dalam diri kita. Salah satu caranya adalah dengan menulis. Tulis segala hal yang memicu emosi dengan sedetil mungkin untuk menggali akar masalah yang sebenarnya terjadi. Jikapun ada rasa yang kembali muncul seolah-olah sedang berada di situasi saat itu misal merasakan kembali sakitnya, marahnya, sedihnya, kecewanya sampai mungkin kita menangis sejadi-jadinya, maka biarkanlah. Karena itu termasuk detox jiwa supaya plong setelahnya jadi terasa lebih ringan. Nangis saja sampai benar-benar terasa lega.

Kemudian, melakukan PENERIMAAN. Menerima segala sesuatu yang pernah kita alami sebagai sesuatu yang memang harus terjadi begitu adanya.  “Penerimaan tidak akan mengubah keadaan tetapi penerimaan akan membuat beban berat itu perlahan menjadi ringan”. (Ribka ImaRi).

Setelah melakukan penerimaan, perlahan-lahan mulailah MEMAAFKAN satu persatu kejadian. Jika belum mampu memaafkan oranglain maka mulailah dengan memaafkan diri sendiri. Tidak perlu tergesa dan memaksakan diri. Karena memaafkan itu butuh proses yang mungkin akan memakan waktu.

Bagaimana tandanya bahwa kita sudah benar-benar memaafkan?
Jika kita teringat kembali kejadian yang pernah membuat luka itu. Hati sudah tak merasakan sakit lagi. Tak ada sensasi apa-apa selain BIASA SAJA.

Nubarnulisbareng/Titin Siti Patimah