TEMAN-TEMAN SEPERASAAN

Pernahkah terbayang dalam hidup kita jika tak punya teman akan bagaimana? Wah …kalau saya rasanya tak mungkin kalau sampai tidak punya teman. Bagi saya, teman sangat penting artinya dan sangat mempengaruhi kualitas hari-hari yang saya lalui.

Selama masa sekolah hingga kuliah, saya sangat senang berteman dengan siapapun di lingkungan sekolah. Hampir setiap jenjang kelas yang saya lalui saya selalu berteman dengan semuanya, tidak pernah ada masalah dan bahkan saya bisa punya sahabat karib yang sangat dekat. Saking dekatnya hingga usia sekarang pun masih komunikasi layaknya sebagai sesama teman masa kecil.

Seiring waktu berlalu, teman-teman saya juga bertambah banyak di tempat kerja, di organisasi dan di masyarakat atau tetangga. Saya sangat bersyukur dianugerahi kecakapan mengawali pertemanan dengan siapapun dan sangat jarang bahkan hampir tidak pernah bermasalah.

Setiap saya masuk lingkungan baru baik dalam perjalanan karir ataupun sebagai ibu rumah tangga di lingkungan rumah, alhamdulillah saya cenderung mudah berteman. Bahkan teman SMP, SMA dan kampus saat kuliah banyak yang bilang saya kolektor foto dan kolektor kenangan. Dulu, saat belum zamannya kamera hp, hanya saya yang sering membawa kamera dan jeprat-jepret mengabadikan moment walau harus mengeluarkan biaya lumayan. Tapi jadinya, sekarang semua foto itu abadi terpampang di album foto. Ini sangat berarti ketika tiba masa reuni. Foto dari album saya lah yang jadi pembahasan di reuni. Begitu riuh suka cita kami saat melihat lihat foto masa lalu.

Jika di masa sekolah terutama di masa kuliah ada yang disebut teman seperjuangan, maka di masa kini saya malah mengalami atau menikmati yang namanya teman seperasaan. Mengapa demikian? Baiklah saya cerita sedikit ya …

Beberapa waktu lalu saya merasakan gangguan guncangan psikologis yang sulit saya atasi sendirian. Saya hadapi sebagai bagian dari dinamika kehidupan. Alhamdulillah dengan ijin Allah, tanpa harus saya ceritakan asal muasalnya, saya tergabung ke komunitas para penyintas depresi dan bipolar Awal mula bergabung karena keterikatan pada proyek kepenulisan namun ada kaitannya juga dengan gangguan psikologis. Artinya peserta komunitas menulis ini adalah para penulis yang memiliki kisah nyata dengan kehidupan psikologisnya masing-masing.

MasyaAllah…di komunitas ini kami saling bercerita satu sama lain. Khususnya saya sangat terkagum -kagum pada pengalaman masing-masing yang merasa punya masalah.

Yups, begitulah akhirnya saya merasa punya teman seperasaan di komunitas ini. Beberapa pengalaman teman-teman saya simak dan anehnya banyak yang mirip dengan saya. Saya senang mendengarkan sambil merencanakan membuat buku.

Alhamdulillah, saya jadi tak merasa sendirian. Saya lega bahwa ternyata banyak juga yang seperasaan dengan saya. Kami saling mensupport, saling memotivasi untuk bersemangat. Walau berbeda tapi saling menguatkan.

Dan beginilah saya sekarang, punya teman-teman sepermainan dan seperasaan walau hanya kenal melalui chat wa. Tapi saya merasa langsung dekat. Saling mengerti dan saling mendengarkan.

Saya berharap pertemanan ini akan berlangsung selamanya. Aamiin .