TEBAK AKU SIAPA

Suasana malam di Yogya begitu indah. Kerlip lampu toko, hotel, rumah, dan lampu gerobak pedagang kali lima yang berjajar di sepanjang jalan menambah kemeriahan suasana. Jalanan di malam hari lebih padat daripada siang hari. Mungkin karena malam merupakan kesempatan masyarakat untuk sekadar belanja atau melepas penat dengan berjalan atau berburu kuliner yang khas. Sementara pada siang hari waktu mereka habiskan untuk bekerja atau belajar.

Perjalanan 6 jam menuju Yogyakarta cukup membuat kami penat. “Hai kalian ada teba-tebakan nich!” Kata Kak Rusli memecah suasana. Kak Rahmani yang duduk di samping Kak Rusli bangun dari duduknya. Aku, Diana dan Fatim yang duduk di bangku paling belakang ikut menyimak. “Tebak-tebakan apa Kak?” Tanya Yayang sambil mengucek ngucek mata. Sejak naik dari Madiun dia sudah tepar alias tidur. “Perhatikan!” kata Kak Rusli “Itu yang naik motor, laki-laki atau perempuan?” Kak Rusli menunjuk pengendara motor yang ada tepat di depan mobil yang kami tumpangi. Melaju dengan perlahan, karena jalanan sedikit macet.

“Laki-laki.” Kata Ka Rahmani, “Ih, Perempuan atuh, tuh rambutnya Panjang.” Kata Diana. “Kalau menurut ku laki-laki, lihat sendalnya!” “Manurutku sich perempuan, selain rambutnya pajang, nampaknya rambutnya itu halus dan terawatt. Kalau laki-laki kan biasanya walaupun panjang paling dibikin gimbal!” jawabku. “Ndak lah. Yok pastine wong lanang, tuh helm nya koyok ngono.” Jawab Mba Fatim dengan logat jawanya yang medok. “Yo wes, kita buktikan ya!” Kata Kak Rusli. Laju Mobil dipercepat mencoba menyalip motor yang ada di depan. Perlahan namun pasti semua mata melirik ke arah kiri, tak ada yang berkedip, sambil menahan nafas memasang mata dengan kualitas ketajaman tingkat tinggi. “Ha ha ha ha ….. aku menang!” teriak Kak Rahmani yang pertama kali melihat penunggang motor dengan jelas. “Kok laki-laki selembut itu sich. Itu rambut ukuran perempuan. Sepertinya rambut aku kalah halus dengan dia.” Diana cemberut.

“Santai aja Din, dunia memang sudah terbalik” kata Mba Fatim.

“Nih, tebak lagi!” Kata Kak Rusli.

“Lihat pengendara motor itu. pertanyaannya sama, dia laki-laki atau perempuan?” Cukup lama kami mengamati. Sampai Kak Rahmani yang duduk paling depan saja berkali-kali ganti jawaban. Kadang jawab laki-laki kemudian ganti jadi perempuan, dirubah lagi jadi laki-laki. Dari segi rambut panjang, belum tentu perempuan. Buktinya tadi tebakanku salah. dari segi sandal. Sandal yang dipakainya standar. Bentuknya bisa digunakan untuk laki-laki atau perempuan. Begitu pula jaket, helm, bentuk tubuh, bisa jadi laki-laki atau perempuan. Dalam waktu yang cukup lama, sampai habis masa berhenti di lampu merah, kami tidak menemukan jawaban pasti pengendara itu laki-laki atau perempuan.

Yayang yang dari tadi diam, dan hanya mengamati nampak kesal. “Benar-benar dunia sudah edan. Bukankah Allah melaknat Laki-laki yang menyerupai perempuan atau sebaliknya. Ya kan Kak?, kok kita sampai tidak bisa menentukan pengendara itu laki-laki atau perempuan. Dih, bener-bener kacau!”

“Benar. Dalam sebuah Riwayat disebutkan dari Ibnu Abbas ra, disebutkan bahwa Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang meyerupai laki-laki. Penyerupaan itu baik dalam gerak tubuh berbicara, berjalan dan dalam setiap hal yang menjadi kekhususan bagi masing-masing. Termasuk di dalamnya cara berpakaian dan berdandan.

“Islam merupakan agama yang sempurna. Salah satu bentuk kesempurnaan Islam adalah Allah menciptakan manusia dengan dua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Keduannya memiliki persamaan dalam mengemban kewajiban beribadah, beriman, dan beramal shalih dengan cara yang sama. Yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Allah. Demikian juga antara laki-laki dan perempuan juga memiliki persamaan dalam hak menerima pahala atau balasan terhadap perbuatan yang dilakukan.” Jelas Kak Rahmani.

“Bagaimanapun para aktivis menyuarakan kesetaraan gender. Itu tidak mungkin. Karena laki-laki dan perempuan punya jalannya masing-masing dalam hal bekerja dan beribadah sesuai dengan kodratnya.” Kata Kak Rusli “Contoh kecilnya, laki-laki bisa pipis dalam botol, perempuan bisa?” Kata Kak Rusli, auto membuat kita semua tertawa.  

Yayang masih sangat belum puas dengan penjelasan kedua Kakak Kelas kami itu, “Lantas bagaimana hukumnya, laki-laki yang berdandan perempuan demi tuntutan profesi, main film, karnaval atau pentas seni?”

“Kita tanyakan sama Pa Kyai aja ya. berhubung kita sudah sampai di rumah beliau.” Jawab Kak Rusli sambil memarkirkan mobil.