TARIK NAFAS ADALAH CARAKU

“Buuu … Adek mau ituuu!” rengek nya manja disertai gestur tubuh yang di ombang-ambing kan.
“Nanti ya Dek, sabar. Ibu pilih dulu barangnya, sebentar lagi ya, ini sudah di tunggu sama mbak nya” sahutku halus dan di sertai elusan lembut, berharap Adek akan segera mengerti.

Sedetik, dua detik, dan lima menit berikutnya…
“Ahhh … Ibu lama, nyebelin, cepetan Bu. Tadi katanya cuma sebentar, ibu bohong!”
Adek mulai rewel, protes dan membuatku tak nyaman. Tak enak dengan pembeli lain, aku akhirnya harus mengalah pada rengekan Adek. Sebelum habis sabarku, setelah berkali-kali kuberi pengertian.
Sebenarnya aku tak memaksa Adek untuk memahami kata-kataku maklumlah masih usia anak-anak, yang kadang memang tak bisa langsung mencerna kalimat orang dewasa.
Aku keluar dari toko itu dengan sedikit perasaan kesal “Ah tahu gitu tadi Adek di rumah aja sama Ayah” batinku menggerutu.
Bukan salah Adek memang. Aku yang mengajaknya.
Bila kutinggal dengan Ayahnya di rumah hatiku tak tenang, bisa-bisa main air pun di biarkan, kalau aku tanya mengapa jawabannya “Kan gak setiap hari Bu, sudahlah itu pun hanya sebentar”.
Sebentar bagaimana wong sampai jadi kulit jeruk itu jari-jari Adek. Jadi asal anak senang, tak rewel main air pun silakan saja.
Ahh … mungkin aku saja yang terlalu berlebihan.
Kutarik nafas dalam-dalam, ku katakan pada diriku. “Inilah nikmatnya belanja dengan anak”.
“Bu, kok malah berhenti, Adek kan pingin ituuu” sambil menunjuk pedagang es di seberang.

Tak berapa lama dengan riang, anteng dan bahagianya Adek melahap es campur itu.
“Enak dek?”
“Enak Bu, terima kasih Ibu sudah belikan, hausnya ilang. Ibu baik deh, Adek sayang sama Ibu. Semoga Ibu rezekinya lancar, jadi bisa belikan Adek es lagi” doanya sambil terus menyeruput es campur itu.

Degggg … Seketika.
Masyaa Allah Adek, di saat aku menyesali membawamu serta belanja hari ini, ternyata tulus sekali Nak kau doakan Ibumu. Aku tak kuasa menahan trenyuh dalam hatiku. Andaikan tadi aku tak bisa menahan kesal, andaikan tadi kubentak anakku, kuacuhkan inginnya, apa jadinya ya Allah. Mungkin hatinya terluka, sakit dan menangis.
Ternyata…

Sabar itu bisa belajar dari mana saja.
Terima kasih Nak untuk pelajaran nya hari ini.
“Sabar adalah bahan ramuan paling sehat dalam hidup kita”.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu