Tanpa mudik, lebaran jadi berbeda

Sejak polemik mengenai defenisi mudik dan pulang kampung oleh penguasa dipersoalkan, bermunculan lah informasi tidak jelas pada masyarakat. Padahal bila kita melihat pengertiannya pada KBBI ( kamus besar bahasa indonesia) maka mudik atau pulang kampung sama saja. Hal ini menjadi guyonan di kalangan masyarakat baik para pejabat, politisi serta masyarakat. Di tengah pandemi covid 19, sepertinya masyarakat indonesia resah dengan pelarangan mudik tahun ini, mengapa tidak? Tradisi mudik sudah mendarahdaging buat para perantau yang jauh dari keluarga. Kerinduan mendalam terhadap keluarga di kampung akan tertahan hingga pandemi ini berakhir.

Beruntungnya bila sebelum puasa kita sudah berada dikampung halaman bersama keluarga besar. Itu yang terjadi seperti diriku. Mudik sebelum puasa. Bukan karena suatu hal, namun almarhumah mama saat itu sedang sakit parah, sebagai anak tentu bersegera menjenguk sang mama tercinta. Tak sempat beliau mencicipi ramadhan, Allah swt telah memanggilnya ke haribaanNya. Memang sulit bagi kami sekeluarga untuk menerima hal itu, kepergian sosok mama yang selalu mengingatkan bangun sahur dan memasak sahur. Walau kami sudah ada yang menikah , kasih sayang mama tetap sama. Senantiasa mengingatkan untuk bangun awal di kali sahur. Ahh, sungguh rindu diri ini pada Mama tercinta. Bahkan lebaran pun akan berbeda tanpa kehadiran Mama lagi. Mungkin di luar sana , masyarakat merindukan mudik sebab bertemu dengan kedua orangtua tercinta, namun tidak untukku. Mengharap pandemi ini segera berlalu hingga masyarakat dapat berkumpul bersama keluarga tercinta di kampung. Lebaran tanpa mudik akan terasa berbeda. Kampung halaman begitu indah dan asri tanpa hiruk pikuk udara kota yang mencekam dan penuh debu. Kampung tercinta yang sangat dirindukan oleh Sang kekasih hati yakni keluarga.

Kita semua berharap bahwa pandemi covid 19 segera berakhir, kondisi berjalan normal kembali tanpa adanya pelarangan mudik ke kamoung halaman masing – masing. Aamin ya rabbal alamin.