TAKUT MEMBAWA SI BAYI KE RUMAH SAKIT UNTUK IMUNISASI?

Takut Membawa si Bayi ke Rumah Sakit untuk Imunisasi?

Sejak wabah Covid-19 ini muncul, salah satu ketakutan para ibu adalah membawa anaknya ke fasilitas kesehatan (faskes) untuk imunisasi.

Ini cerita saya beberapa hari yang lalu. Bayi saya berusia 4 bulan dan sudah jadwalnya untuk mendapat imunisasi dasar (DPT, HIB, Polio, IPV) serta tambahan vaksin Rotavirus.

Galau sekali saat itu. Takut dengan bayang-bayang Covid-19 di area faskes. Ini ibarat saya mengajak si bayi untuk menghampiri virus-virus yang tak kasat mata itu.

Akhirnya saya rembukan dengan suami dengan mengacu pada informasi dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) tentang ketentuan imunisasi selama pandemi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ikhtiar yang mana jika tidak mengetahui atau paham suatu perkara, maka tanyakan kepada ahlinya yang memiliki ilmu tentang perkara tersebut.

Akhirnya saya dan suami berani untuk tetap mengantar bayi kami ke faskes, yaitu salah satu rumah sakit untuk mendapat imunisasi yang sudah terjadwalkan.

Alhamdulillah keluarga kecil saya tinggal di Klaten yang terbilang masih cukup aman dan kondusif dibanding daerah lainnya seperti di ibukota dan sekitarnya.

Sebelum saya ke rumah sakit, saya pastikan prosedur di rumah sakit tersebut. Saya menelpon pihak rumah sakit untuk memastikan kondisi di sana aman. Saya juga minta dihubungkan ke poli anak untuk bertanya langsung tentang prosedur imunisasi di sana.

Setelah yakin dan membuat janji datang temu dokter saya pun langsung berangkat ke rumah sakit diantar oleh suami. Salah satu keuntungan suami WFH adalah bisa punya waktu untuk antar istri atau sekedar belanja kebutuhan keluarga. Karena ini merupakan perjalanan pertama bagi saya dan si bayi setelah berdiam diri di rumah selama wabah covid-19 menyebar luas di Indonesia.

Kami diharuskan memakai masker. Sesampainya di lobi rumah sakit, kami di cek suhu tubuhnya dan diharuskan memakai hand sanitizer. Kami memilih menggunakan tangga jalan dibandingkan lift untuk mengurangi menyentuh benda-benda di sana.

Setelah sampai di poli anak, alhamdulillah sepi sekali tidak seperti biasanya yang harus antri panjang. Hanya ada 3 pasien saat itu. Si bayi jadi tidak perlu berlama-lama menunggu.

Dokter dan semua perawat menggunakan masker. Hand sanitizer juga ada di sudut-sudut ruangan. Kursi tunggu juga dibuat untuk jaga jarak. Dokter menggunakan baju operasi mulai dari kepala sampai kaki.

Proses imunisasi berjalan cepat saja. Alhamdulillah si bayi juga sangat bisa di ajak kerjasama. Saya juga tidak konsultasi banyak hal tentang si bayi karena kondisinya sedang sehat tak ada keluhan.

Setelah selesai, saya langsung bayar biaya imunisasi di kasir kemudian pulang.

Tidak lupa untuk selalu pakai hand sanitizer yang telah disediakan disana.

Sekali lagi, ini pilihan yang saya buat berdasarkan saran IDAI dan pertimbangan matang dengan suami demi si bayi. Semoga ibu-ibu yang sedang melakukan ikhtiar yang sama bisa dimudahkan dan mendapatkan pelayanan dari faskes yang dituju sesuai prosedur yang tepat.

Saran saya, sebisa mungkin mencari faskes yang sepi atau memisahkan anak-anak yang sakit dengan anak-anak yang hanya akan diimunisasi.

Hindari atau kurangi untuk memegang benda-benda yang ada di faskes.

Selalu cuci tangan atau menggunakan hand sanitizer yang tersedia di faskes sebelum memegang si bayi.

Selalu memakai masker selama di faskes. Kalau si bayi memungkinkan untuk menggunakan masker maka pakaikanlah. Kalau bayi saya tidak oakai masker karena dia jadi kesulitan untuk mengatur nafasnya dan akhirnya rewel.

Jangan lupa untuk selalu memastikan dulu kondisi faskes dengan menelpon langsung, kemudian membuat janji temu dokter.

Semoga Covid-19 bisa segera pergi dari bumi-Nya.