TAK SEPERTI HARI RAYA

Suara takbir sangat jelas terdengar dari kamarku. Riuh gemuruhnya sungguh memyentuh kalbu. Membuat hatiku semakin haru.

Bagaimana tidak? Di kala setiap insan di muka bumi ini, bersiap menyambut datangnya hari. Melantunkan puji-pujian untuk Sang Khalik. Aku hanya bisa berdiam diri.

Ya, tak ada daya untuk ikut beramai-ramai ke tanah lapang melaksanakan salat Eid. Terkungkung oleh pandemi terkutuk yang masih berkeliaran di rumah ini. Kami semua terdeteksi positif covid 19.

Lelahnya tubuh dan batuk yang belum sepenuhnya pergi. Membuat kami harus lebih sabar dan menahan diri untuk tidak keluar rumah. Menanti masa isolasi mandiri berakhir.

Tak ada ketupat, opor ayam, semur, rendang, apalagi kegiatan bakar sate. Semua rutinitas dihilangkan begitu saja. Hari raya bagai hari biasa.

Kue-kue hidangan juga tak tersedia di ruang tamu kami. Yang tersedia hanyalah susu cair kaleng kiriman salah seorang kerabat yang peduli akan kesehatan kami. Ditambah makanan beku yang disimpan di lemari pendingin.

Tiba-tiba ku tersadar. Tak mengapa, toh tak akan ada seorang pun yang berani datang bertamu. Mengapa berpayah-payah menyiapkan aneka hidangan?

Demi kebaikan semua, memang seharusnyalah seperti ini. Menarik diri dari dunia luar sesaat. Tak lama, hanya 14 hari saja. Setelahnya kami dapat melanjutkan kehidupan sosial kami lagi.

Menjalani hari dengan hati tenang tanpa rasa was-was akan menulari orang di sekitar kami. Kembali menjalankan rutinitas sehari-hari dalam keadaan sehat dan bahagia.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie