SURAT UNTUK IBU

Ibu, Sepanjang perjalanan usiaku. Yang ada hanyalah ketakutan akan sesuatu. Terutama takut kehilangan. Ketakutan ditinggal pergi adalah hal yang paling mendominasi dalam diri.

Aku merasa tak paham lagi bagaimana menata hati. Berusaha supaya ingatan, jiwa dan raga hadir dalam satu ruang dan waktu. Seringkali raga disini disaat ini tapi pikiran melayang jauh dimasa silam atau berada dimasa depan dengan segala kecemasan yang mendalam.

Aku tak paham bagaimana cara menata kembali kenangan-kenangan yang terserak. Merapikannya
Kembali supaya terasa lebih nyaman.

Hingga pada suatu ketika. Sang Pemilik Jiwa mempertemukanku dengan seseorang. Dia yang paham bagaimana cara manata diri, menyembuhkan luka masa kecil supaya aku bangkit kembali. Kemudian menjemput jiwa kecilku yang trauma akan kepergian.

Dari sana aku mulai belajar. Belajar menerima semua kenyataan pahit masa lalu. Belajar bangkit dari keterpurukan. Belajar mengutarakan perasaan lewat tulisan. Maka dari itu. Kutulis surat ini untukmu. Semoga rinduku bisa tersampaikan.

Pada Akhirnya dengan penuh rasa sadar dan menerima. Aku ikhlaskan kepergianmu. Semoga Ibu tenang disana. Hanya dengan do’a aku memelukmu. Selamat jalan, Ibu. Aku, akan kembali melanjutkan langkah menjemput bahagia yang tersisa.



Pangalengan, 030521

Nubarnulisbareng/Titin Siti Patimah.