SURAT CINTA TANPA KATA

SURAT CINTA TANPA KATA
—————————————–

“Bun, Bunda sedang apa sih? Kok lama banget! Ayo cepetan nanti ketinggalan pesawat!” Lengkingan suara si anak sulung cukup keras. Sweater dan koper dan koper marun sudah nangkring depan pintu.

“Bunda nyari apa, aku bantu cari biar cepet ketemu,” Haura, si bungsu tak mau kalah, ia menawarkan bantuan. Tangan mungilnya turut sibuk membuka laci di ruang TV.

“Bunda sebutin aja, apaan sih yang belum ketemu?” Asma Maharani mulai menaikan suaranya, pandangan matanya tak lepas dari Bruno Cavalli di tangannya.

“Bun ….”
Guncangan di bahu mengembalikan angan yang tengah mengembara.

“Bunda nyari ini?” Haura mengambil sebuah sesuatu dari laci dan menunjukkan pada ibunya.

Bu Alifa mengangguk cepat, ia menyambar bingkai foto itu dari tangan Haura. Rengkuhan erat tangan seolah tak mau melepaskan benda itu. Matanya mulai berembun.

Perlahan ia memasukkan barang itu ke dalam koper pribadinya. Setelah memastikan semua barang terbawa dan apartemen sudah kosong, mereka bertiga segera masuk taksi online yang sudah menunggu di bawah beberapa menit yang lalu.

“Bandara ya Pak,” kata Bu Alifa pada sopir taksi itu.

“Okay Mam.” Lelaki yang memiliki postur tubuh kecil serta memakai kaos bertuliskan “Istanbul” itu mengangguk tanda faham.

“Good bye Eiffel ….!” suara si Asma terdengar lirih dan serak. Ia  masih baper semenjak kenyataan menyapa mesra mereka. Hidup yang selama ini bahagia tiba-tiba harus terhempas begitu saja.

“Sometime ….”
“We will ….”
“Come back!” Sahut Haura melanjutkan kalimat kakaknya dengan terputus-putus.

Dua bulan lalu, Freedy, lelaki keturunan Prancis itu harus meninggalkan keluarga kecilnya karena kecelakaan tunggal. Efek kelelahan hingga tak sadar jika mobil yang ia kendarai menghantam trotoar. Nahas, kecelakaan itu menyebabkan nyawanya tak sempat ditolong oleh petugas.

Kehilangan lelaki terkasih yang tiba-tiba, membuat Bu Alifa memutuskan untuk kembali ke keluarganya di Indonesia. Toh di Paris juga dia tak memiliki pekerjaan karena selama ini ia hanya mendampingi sang suami. Jadi jika sang kapten sudah tak ada, maka kini tinggal ia yang menjadi nakhoda. Namun, belum terbayang langkah apa yang harus dilakukan dengan kemampuan yang tak seberapa.

***

Sesampainya di Indonesia, mereka disambut dengan keluarga dari Bu Alifa. Om Wisnu meminta mereka tinggal di rumahnya yang berada persis di samping rumah Bu Afwa, nenek dari Asma dan Haura. Rumah itu kosong karena Om Wahyu belum berkeluarga dan sebagai perwira negara ia dinas ke luar kota.

[Anggap aja rumah sendiri ya kak. Tolong dirawat dengan baik ya!]

Pesan Om Wisnu melalui aplikasi berwarna hijau. Ia tak bisa menjemput karena masih di Samarinda.

Rumah berukuran minimalis namun nampak asri dengan taman bunga di depannya menyambut mereka. Setelah nenek dan kakek kembali ke rumahnya, Haura dan Asma tiduran di sofa sementara Bu Alifa mengambil “bingkai keramat” yang hampir membuat mereka ketinggalan pesawat.

“Bun, ini apa ya? Kok isinya kosong semua?” Tanya Haura dengan rasa kepo yang tinggi.

Matanya lekat memandang bingkai foto yang berisi selembar kertas surat yang masih kosong, kertas surat itu berbingkai taburan berbentuk hati berwarna merah sebanyak tiga belas biji. Matanya semakin mendekat memperhatikan baris demi baris yang isinya kosong tanpa ada tulisan apa pun. Hanya ada tulisan “I Love You” di baris paling terakhir.

Bu Alifa tersenyum, matanya menerawang ke masa lalu.

“Ini adalah pemberian lelaki yang paling Bunda cintai. Ia memberikannya saat meminta Bunda untuk menjadi kekasih halalnya.” mulut Bu Alifa mulai mengalirkan kata dengan irama sendu.

“Waktu itu, kami masih mahasiswa tingkat akhir di “Universite de Lorraine”. Ayahmu datang bukan untuk mengajak pacaran tapi untuk menjadi kekasih halal.” Bulir kristal mulai mengalir perlahan namun tangan Bu Alifa sigap menghapusnya.

“Kenapa nggak ada tulisan sedikit pun?” Asma turut bertanya. Ia merasa heran melihat sebuah surat cinta, namun kertasnya masih kosong.

“Cinta itu ….”
“Tidak membutuhkan banyak kata.”
“Cukup buktikan dengan hal yang nyata. Insya Allah akan terasa lebih bermakna.” Jawaban ayah kalian saat Bunda mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang kalian tanyakan.

“Ah … ayah so sweet banget!” seru Asma dan Haura hampir bersama.

“You are the best Dad we have. We will always love you. Semoga kau bahagia di surga sana.” Bisik Asma yang memiliki kedekatan dan tingkat emosi paling tinggi. Haura dan Bu Alifa turut mengaminkan doa tersebut.

_Wina Elfayyadh_

#Nubar
#NulisBareng
#Level3
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week4day6
#RNB016JABAR
#rumahmediagrup