SUNGKEM UNTUK IBU

Ku tulis untuk Ibu di temani air mata.


Bu, maafkan anakmu yang tak bisa pulang lebaran kali ini.
Sama dengan lebaran tahun lalu.
Maaf Bu.
Kami di sini rindu Ibu, tak berjumpa, tak shalat Ied bersama.

Rindu masakan Ibu, ketupat, opor, sambal dan sayur tumpang.
Rindu sujud khidmat di kakimu, mohon maaf atas segala khilaf dan keliruku.
Lalu, kau peluk diriku, mencium ujung kepalaku, tanpa sepatah kata.
Air matamu, mewakili segalanya. Deras dan tak tertahankan.
Kau hanya menepuk lembut punggungku, sembari mencium pipiku.
Kau peluk erat diriku, sembari kau berkata “ Maafkan Ibu ya Nduk, Ibu juga banyak salah sama kamu.”

Tercekat, tak bisa berkata apa. Ingin ku katakan padamu Bu, “ Aku yang banyak salah sama Ibu, terkadang bicara sesuka hati, kadang lupa pakai intonasi tinggi, tak sengaja melukai hati.”
Tapi yang kulakukan hanya mengangguk, dan mencium tanganmu. Harusnya aku Bu, yang sering minta maaf padamu, tak hanya saat sungkem lebaran saja.
Meski kita terpisah jarak dan waktu, Ibu memaafkanku tanpa kuminta, Ibu lebih merindukanku, dan Ibu memahamiku. Semakin menjadi rinduku padamu Bu.

Maafkan aku Bu, belum bisa membalas kebaikan Ibu selama ini.
Aku ingin sepertimu Ibu, yang bisa sabar dalam menghadapi hal apapun.
Yang bisa ikhlas menerima segala sesuatu, tanpa ada kata tetapi.
“ Bu,kulo nyuwun pangapunten seagengipun samodra pangaksami dhateng sedaya klenta klentunipun lampah kulo tumindak lan anggene kulo matur ingkang kulo sengojo nopo dene mboten dipun sengojo.”
“ Allohummaghfirlana.”
Selamat Hari Raya Idul Fitri Bu, mohon maaf lahir dan bathin.


Salam sayang dan rindu dari Anakmu yang tak bisa pulang.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu