Suka Duka menjadi Konselor

Melanjutkan cerita berjudul Dokter Cinta yang aku posting kemarin, menjadi seorang konselor atau profesi apapun selalu ada suka dan dukanya. Kita harus jeli mengenali passion kita sendiri.

Aku mulai menerima konseling dan mengajar meditasi sudah sejak tahun 2011. Puji Tuhan sertifikat kehidupan alias pengalaman yang mengerikan membuatku mampu mengambil makna positif dan bangkit. Sehingga Tuhan mengijinkan aku berbagi pengalaman kepada orang yang menderita baik sakit penyakit maupun masalah apapun.

Tahun demi tahun semakin banyak yang konseling dan datang silih berganti, baik teman yang kenal maupun teman di dunia maya. Masalahnya banyak yang kurang tekun dan mau mencari instan (cepat selesai masalahnya tanpa perjuangan). Tidak mungkin bisa, semua yang mau kita raih harus ada usaha.

Dalam mengajar meditasi, bukan berarti aku sudah beres, tetapi aku mengajar secara real. Sebelum mengajar aku selalu mengatakan bahwa aku pun masih dalam proses. Istilahnya belajar bersama-sama.

Sukanya, kalau ada konseli (orang yang membutuhkan arahan dalam menghadapi masalah) dan ada progress yang bagus, rasa hati ini tak terkira ikut bahagia. Apa yang kutanamkan ikut tertanam juga buat para konseli.

Tiap mereka menghadapi masalah, selalu teringat nasihatku. Hal ini sungguh membuatku merasa puas bahwa apa yang kulakukan berhasil membantu orang lain menyelesaikan masalahnya.

Dukanya, kalau ada konseli yang belum berdamai dengan diri sendiri banyak yang melampiaskan kemarahannya dengan berbagai cara kepadaku. Puji Tuhan sebelum membuka praktek, aku sudah mempersiapkan diri dengan segala resiko.

Aku sendiri sudah paham bahwa berdamai dengan diri sendiri bukan hal yang mudah. Aku selalu recharging energy dengan meditasi, sehingga kekuatan Ilahi yang bekerja. Masalahnya kalau aku sendiri masih banyak sampah emosi, akan terbawa/ ikut terpancing emosi dari konseli.

Apapun passion kita, kalau kita mau mengerjakan dengan sepenuh hati pasti bisa melewati segala rintangan yang menghadang. Aku hanya berharap bagi para konseli supaya mau lebih tekun melatih diri mengubah mindset. Hanya itu cara terbaik dalam menghadapi masalah apapun.

Hanya diri sendiri dan Tuhan yang bisa menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Konselor hanya alat-Nya yang mengarahkan jalan yang pernah dilalui. Tetap semangat ya!

The Power of Thinkingđź’–

The Power of Forgivenessđź’–

Wenny Kartika Sari