Sudahkah Rumahmu menjadi Agen Pendidikan ?

Dokumen Pribadi : Utyagusriati

Hari ini seluruh rakyat Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional ( Hardiknas) yang jatuh pada tanggal 2 Mei.  Hardiknas yang identik dengan tiga ajaran kepemimpinan Bapak Kihajar Dewantara, Ing Ngarso Sung Tulodo(di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karso (di tengah memberi dorongan), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberi kekuatan),  tahun ini dirayakan dengan tema “Belajar dari Covid-19”.

Keberadaan covid-19 yang melanda hampir seluruh negara di dunia sejak Januari 2020, tidak hanya dilabeli sebagai bencana  yang menyentuh hampir di semua titik sektor, seperti kesehatan, ekonomi, politik, budaya,
bidang kesehatan, dan lain-lain termasuk pendidikan. Akan tetapi  keberadaannya terbukti memberikan pembelajaran.

Belajar adalah tanggung jawab semua pihak.
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga/rumah, masyarakat, dan pemerintah/sekolah.  Artinya, bahwa ketiga pilar pendidikan ini harus memainkan perannya secara bersinergis.
Tentunya dengan proporsi yang berbeda. Rumah/keluarga memiliki peran 60%, masyarakat 20%, dan Pemerintah/sekolah 20%.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa dalam 24 jam, waktu belajar anak lebih banyak di rumah (14-16 jam) dibandingkan di sekolah ( 8-10 jam). Begitupun dengan keberadaan anak bersama keluarga, sekitar  30-40%. Anak mulai usia 0-25 tahun berada dalam pantauan orangtuanya. Usia 25 -65 tahun  anak sudah mencari pekerjaan/sudah bekerja/menikah. Anak sudah memiliki kehidupan sendiri/bersama keluarga barunya.

Melihat akumulasi waktu tersebut orang tua dapat memanfaatkan masa untuk menanamkan pendidikan kepada anak.

Beberapa hal yang harus diajarkan orangtua agar anak menjadi pintar, patuh pada semua perintah orangtua, taat aturan agama, berakhlak mulia atau menjadi anak shaleh.

1. Pemberian nama yang baik dan melakukan aqiqah.

2. Mendidik anak, diantaranya :

a.  Mengajarkan kecintaan kepada Allah dan Rasulnya.
b. Mengajarkan Sunnah dan mendidiknya di atas sunnah.
c. Mendirikan shalat
d. Mengajarkan akhlak, seperti berbakti kepada orangtua, menahan diri dari mengganggu dan menyakiti diri sendiri, orang lain, dan sesama makhluk, menyebarkan salam, menjaga lisan, dll. e. Mengajarkan Al-Quran dan ilmu agama.

3. Menikahkan dengan pasangan yang baik.

Rumah/keluarga adalah agen yang paling penting dalam menentukan pendidikan anak.  Apabila salah dalam pendidikan awalnya, peluang untuk terjadi berbagai distorsi pada diri anak akan lebih tinggi.

Rumah sebaiknya menjadi salah satu elemen pokok pembangunan entitas- entitas pendidikan, menciptakan proses naturalisasi sosial, membentuk kepribadian- kepribadian, serta memberi berbagai kebiasaan baik. 

Pentingnya peran rumah terlihat sangat jelas bahwa anak dilahirkan dalam kondisi fitrah dan mulai dibentuk di rumah. Rumah bisa tetap meneguhkan fitrah itu atau malah menyimpangkannya. Rasulullah bersabda “setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau majusi (HR. Al-Bukhari).

Ayah dan ibu menjadi tolok ukur baik atau buruknya seorang anak. Terutama orang tua, sangat bertanggung jawab atas aqidah adab, dan akhlak anak-anaknya.

Akan tetapi, selain anak yang belajar dalam rumah, orangtua pun harus belajar untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya. Ingatlah bahwa anak selalu gagal menjadi pendengar yang baik.  Akan tetapi selalu sukses sebagai peniru yang ulung.

Pembagian peran,  kerjasama, dan dukungan ibu dan ayah dalam rumah tangga, diidentifikasi sebagai kunci kesuksesan pendidikan inklusif sejak dini (Hernby, 1995).

Pendidikan dalam rumah juga harus berpola. Tidak hanya mengejar target seperti tuntutan kurikulum di sekolah-sekolah, tetapi pola yang membuat anak merasa nyaman, merasa terlindungi, dan merasa nyaman yang diperkuat dengan batasan-batasan norma.

Pendidikan yang berpola di rumah, diharapkan menjadi salah satu tujuan dari “Merdeka Belajar, dan pencapaian tujuan pendidikan nasional di Indonesia khususnya pendidikan karakter.

Nubarnulisbareng/utyagusriati