Suara yang selalu Kurindukan saat Sahur

Suara yang selalu Kurindukan saat Sahur

Assalamualaikum sobat web nulis bareng rumedia, semoga semuanya dalam keadaan sehat dan bahagia ya, aamiin.

Sudah sebulan lamanya kita harus lebih banyak beraktivitas di rumah, bahkan di Ramadhan kali ini kita harus tarawih juga di rumah. Suasana Ramadhan yang berbeda ini kembali mengingatkan saya kepada suara yang selalu saya rindukan saat sahur tiba.

Momen kehidupan yang paling membuat saya sedih adalah ketidak hadiran mama di saat saya menikah, hamil, dan melahirkan. Sudah 12 tahun mama berpulang dan apabila Ramadhan tiba, saat sahurlah momen kerinduan terbesar saya terhadapnya.

Menjadi seorang bunda selama 6 tahun ini semakin membuat saya sadar, betapa menyiapkan momen sahur dan berbuka itu bukanlah tugas yang mudah. Apalagi momen membangunkan seluruh anggota keluarga agar bisa sahur tepat waktu, khususnya di saat sahur pertama.

Iya, saya kangen sekali dengan suara mama dan belaian lembut mama ketika membangunkan saya saat sahur. Membangunkan putrinya yang susah sekali bangun ini memang butuh perjuangan. Saat sudah bangun juga enggak langsung sahur, tapi banyak sekali ritualnya. Mama selalu siap sedia dan tetap sabar untuk terus membangunkan sahur.

Menyemangati si sulung untuk tetap berpuasa dan kuat terhadap godaan dari rasa lapar serta haus, membuat saya kembali ingat dengan pesan mama yang selalu ia sampaikan setiap sahur, “Ayo … niat puasanya dikuatkan biar bisa tetap semangat puasa sampai Maghrib nanti.”

Iya, segala sesuatu yang kita lakukan bisa berhasil atau tidak semuanya tergantung dari niat, usaha, dan doa. Tapi niatlah yang membuat kita tetap bertahan di kala jatuh. Niat yang ingin berhasil dan tidak menyerahlah akan terus membuat kita bertahan sampai akhir.

Pesan sederhana itulah yang tetap saya ingat hingga kini. Itulah pesan yang selalu beliau utarakan sejak sahur pertama. Sahur pertama yang selalu saya rindukan karena tak pernah mendengar suara serta nasihat mama lagi.

Tapi saya tetap bersyukur, ketidakhadiran mama mampu membuat saya jadi lebih mandiri lagi, lebih tangguh lagi, dan lebih kuat lagi. Di saat pandemi ini melanda, di saat kami harus kuat menjalani kehidupan dengan ekonomi yang sedang pas-pasan, pesan-pesan kehidupan dari mama satu per satu kembali terngiang.

1. Hidup itu kadang di atas, kadang di bawah. Jalani dengan ikhlas, Insyaallah tetap nikmat.

2. Jangan mengeluh terhadap setiap cobaan yang kamu dapatkan, sebab bisa jadi cobaanmu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan cobaan orang lain.

3. Jadi perempuan itu harus kuat, sebab sejatinya laki-laki itu hatinya lebih lemah dibandingkan perempuan. Walaupun mereka terlihat lebih tegar dan kuat.

4. Kehidupan di dunia cuma sebentar, jadilah lebih bermanfaat bagi orang lain.

5. Jangan samakan antara keinginan dengan kebutuhan, sebab 2 hal itu tidak akan sama. Jadi, pilah dan pilihlah dengan bijak, mana kebutuhan mana keinginan.

Itulah pesan yang disampaikan dari suara yang selalu saya rindukan. Momen puasa di bulan Ramadhan saya sudah berubah, sejak tak ada kehadiran mama. Sahur pertama saya menjadi sunyi, sejak tak ada suara nasihat dari mama lagi.

Kini, jadilah saya yang harus meramaikan sahur-sahur pertama anak-anak saya. Saya-lah yang harus memberikan momen-momen indah setiap sahur dan berpuasa kepada ketiga buah hati saya. Agar mereka nyaman saat berpuasa maupun sahur nantinya.

Saya doakan juga buat sobat nubar, agar di puasa dan sahur tahun ini bisa memiliki kenangan indah, aamiin.

Nubar-Nulis-Bareng/Lithaetr