Suara Hati

Oleh: Denok Muktiari

Beda. Saat yang biasa menjadi luar biasa. Sedangkan yang luar biasa harus dijalani, dengan sepenuh hati terutama memberi pengertian pada si buah hati tentang sebuah perjuangan.

Ramadhan tiba. Bulan yang dinanti dengan sederet rencana ibadah. Karena berharap ingin memperbaiki Ramadhan-ramadhan yang telah lalu. Namun semua berubah saat pandemi melanda di seluruh dunia.

Tetap harus dijalani dengan sepenuh hati. Mungkin ini salah satu jalan lebih dekat dengan-Nya.

Ramadhan kurang 5 hari lagi. Isi dompet mulai menipis. Selembar uang seratus ribu. Beras habis. Sementara di daerah tempat tinggalku kebiasaan megengan sehari sebelum Ramadhan selalu digelar. Berbagi nasi berkat ke tetangga. Sebetulnya jika tidak dalam pandemi, 10 nasi kotak adalah jumlah yang kecil. Tapi karena di tengah pandemi angka itu sangat besar.

Bismillah niat menyambut Ramadhan semoga di mudahkan. Ku pikir kembali menu apa yang bisa dimasak? Akhirnya sudah kuputuskan.

Ramadhan jatuh pada hari Jum’at, berarti megengan di kampung dilaksankan hari Kamis sore. Tapi kuputuskan untuk ikut megengan di hari Rabu. Dengan tujuan supaya apa yang kubagikan ke tetangga bisa termakan. Kalau ikut hari Kamis, jelas menu masakanku hanya remeh jika dibanding tetangga. Apalagi dengan pengorbanan uang yang tinggal sedikit, eman kalau nanti jadi mubadzir.

Hari Kamis tiba.

“Buk, ibuk nggak masak?” tanya si bungsu.

“Enggak, Nak. Mudah-mudahan hari ini ada rezeki,” jawabku.

Alhamdulillah dapat nasi berkat megengan. Sahur pertama dengan nasi berkat megengan juga. Alhamdulillah dengan menu yang lezat. Jauh dari menu buatanku kemarin. Alhamdulillah bersyukur sekali. Menu sahur yang enak-enak. Dari nasi berkat para tetangga.

Hari pertama buka puasa masih dengan nasi berkat megengan. Sebagian nasi yang kemarin kumasukkan ke kulkas. Sebelum adzan magrib, ku panaskan kembali biar terasa hangat.

Masih belum ada pemasukan. Sabar.

“Mas, sampean mau nasi kotak?” tanya bapak Muhammad, gelandangan yang biasa tidur di emperan pada suamiku.

“Memang, njenengan dapat berapa? Kok ditawarkan ke saya?”

“Banyak mas, eman kalau dibuang,”

“Boleh,”

**

Hari ke dua puasa. Pak Muhammad datang, beliau mengatakan kalau nasi kotaknya sudah basi. Kalau lauknya ayam goreng masih bisa. Suamiku mengiyakan.

Sedih memang. Tapi memang beginilah adanya. Mensyukuri lebih membuat segalanya menjadi indah.

Hari ini pulang kerja dengan senyum lebar, suamiku membawa beberapa ayam goreng.

“Buk, dipanaskan dulu ya,”

Dan hari itu kuberi pengertian pada anak-anak jika kita harus lebih mensyukuri nikmat yang telah diberi oleh Allah.

Kulihat butiran air mata mulai mengalir. Kami saling berpelukan.

Suara hati ini, suara hati kami semua. Mungkin juga ada yang lebih prihatin dari ini. Tapi apalah arti suara hati ini jika tidak ada yang mendengar. Kembali kepada Allah SWT. Karena hanya Dia tempat memohon pertolongan.

Meskipun di awal puasa sudah diberi ujian. Semoga selama Ramadhan kami bisa melewatinya dengan senyum kebahagiaan.

Malang, 29 April 2020