Suami

SUAMI
Oleh: Ketut Eka Kanatam

Hari Minggu yang cerah.

“Tolong jagain Ayu sebentar, ya, Mas,” pintaku sambil meremas perut.

“Ya,” jawab suamiku dengan cepat, mungkin karena mendengar bunyi angin dari tubuhku.

“Jangan lalai, ya, Mas!” Sebelum pintu kamar mandi tertutup, masih kusempatkan teriak dengan keras, memberi peringatan.

Lega rasanya setelah membuang hajat, cepat-cepat kukeluar dari kamar mandi. Ada rasa khawatir meninggalkan anakku lama-lama dengan bapaknya, Ayu sedang aktif-aktifnya, apa yang dipegang bisa dimasukkan ke mulutnya. Kata ibuku, anak umur tiga tahun memang suka penasaran, rasa ingin tahunya besar jadi semua dicoba dan itu selalu membuat aku ekstra mengawasi Ayu, jarang minta tolong suami. Bapaknya suka lebih fokus ke handphonenya.

Ketika melihat Ayu sedang digendong oleh Mas Bayu–suamiku, ada rasa tenang di hati. Mas Bayu bisa diandalkan menjaga Ayu.

“Ayu, tidur, ya, Mas?” Aku mendekat, melihat kepala anakku masuk ke ketiak suami.

“Lucu, ya, cara tidurnya.”

“Dia memang begitu gaya tidurnya kalau digendong.” Aku tersenyum.

Mas Bayu segera masuk ke kamar hendak membaringkan Ayu.

“Tunggu sebentar lagi!” cegahku dengan cepat, “Ayu kalau langsung dibaringkan akan terbangun.”

Mas Bayu mengangguk, tidak jadi membaringkan Ayu.

“Mas, boleh aku pergi sebentar? Mumpung Mas libur, bisa jagain Ayu,” pintaku sambil merapikan mainan boneka di lantai yang bertebaran.

“Mau ke mana memangnya?”

“Aku mau potong rambut, Mas. Ayu suka narik-narik rambutku, rontok juga.”

“Lama perginya?” Ada nada sangsi dari Mas Bayu.

“Tidak akan lama, selesai potong rambut, aku langsung pulang, dah.” Janjiku dengan percaya diri. “Bisa jagain Ayu sebentar, ‘kan, Mas?”

“Bisa! Asal ndak pake lama!”

Aku mengangguk dan segera menyelesaikan merapikan mainan Ayu dan bergegas pergi, semakin cepat pergi semakin cepat bisa pulang.

Salon yang kutuju juga yang terdekat dari rumah. Niatku potong pendek saja biar tidak perlu ngurusin rambut lama-lama karena lagi repot-repotnya jagain Ayu.

Lega rasanya salon yang kutuju masih sepi, aku langsung ditangani dengan cepat. Rambut panjangku sekarang menjadi sebahu, enteng rasanya kepala.

Seperti janjiku pada Mas Bayu, selesai potong rambut, langsung pulang. Tidak pakai lihat-lihat produk di salon itu maupun lirik-lirik mainan di toko sebelah salon.

Aku melihat jam di tangan, sudah dua jam aku pergi. Begitu parkir motor, segera kumasuk rumah sambil memberi salam. Rumah begitu tenang, tidak ada suara tangisan Ayu. Mas Bayu menjawab salamku dengan cepat. Aku segera melongok ke kamar, memastikan kondisi Ayu baik-baik saja.

“Lo, Ayu, di mana?” Di kamar tidak ada anakku. “Kok, ganti seprei, Mas?”

“Ayu di kamar sebelah, tidur setelah minum susu,” jawab suamiku dengan tenang. “Aku ganti seprei karena tadi Ayu dapat bangun, terus minta main, aku kasi bonekanya.”

“Terus, apa hubungannya dengan ganti seprei?”

“Ayu bedakin bonekanya dengan bedak tabur di atas kasur,” jawab Mas Bayu sambil menangkupkan tangan. “Maaf, ya, tadi aku teledor mengawasi.”

Aku menuju ke meja rias, bedak tabur Ayu segera kuperiksa, kosong, berarti tadi ditumpahkan semua. Mataku langsung tertuju ke lipstik yang tergeletak tidak bersama teman-temannya.

“Ayu main lipstik juga, ya, Mas?”

“Eh, ya, itu juga.” Mas Bayu menggaruk kepalanya.

“Aku sudah cuci, kok, sepreinya.”

Aku mengangguk dan menatap Mas Bayu.

“Mas, mau pergi ‘kan?”

“Pergi? Ke mana?” Mas Bayu terlihat kebingungan.

Kemasan bedak tabur dan lipstik yang sudah patah isinya itu segera kusodorkan pada Mas Bayu.

“Beli ini! Ndak pake lama!”

Bali, 01 April 2020

rumahmediagrup/Ketut Eka Kanatam