Story About You (7)

Story About You (7)

Tahun 2006 adalah tahun yang sangat bersejarah dalam hidupku. Tahun yang mengubah segalanya, rencana hidup, dan status hidup.
Sedikit tak percaya namun semua sudah terjadi, dan aku yakin inilah salah satu kepingan puzzle yang harus aku susun dengan rapi.

Kedatangannya membuat aku bahagia. Menghapus semua jejak air mata dan menggantinya dengan tawa ceria. Memompakan semangat yang luar biasa untuk terus melangkah ke depan. Menopang jiwa saat aku kelelahan dalam meniti setiap tangga kehidupan. Menyemai berjuta bunga-bunga cinta sehingga hidupku semakin berwarna.

Sejak 26 Januari statusku sudah berubah dari single lillah menjadi milik seseorang yang bernama Ade Nurhayat. Dia sekarang adalah imamku, lelaki yang harus aku hormati dan aku patuhi, serta berhak menerima cintaku setulus hati. Namun karena kuliah kami belum tuntas, dengan ikhlas kami menikmati Long-distance Marriage. Semua kami lakukan demi tercapainya apa yang kami cita-citakan. Walaupun demikian, hatiku sudah penuh dengan namanya, tak ada ruang kosong lagi untuk selainnya.

Lelaki yang kukasihi adalah seorang lelaki saleh, baik hati, cerdas dan berilmu tinggi. Maka, aku berusaha sekuat tenaga untuk memantaskan diri, berharap saat berkumpul nanti aku layak menjadi pendampingnya.

Apakah LDM itu enak? Hanya orang yang menjalaninya yang mampu menjawab pertanyaan itu. Yang jelas, aku termotivasi untuk segera menyelesaikan kuliah karena kadang merasa tidak tega saat ia harus mengunjungiku di tengah-tengah kesibukannya, selain itu aku juga ingin segera berbakti kepadanya, mencurahkan perhatian dan cinta yang kumiliki untuknya. Aku ingin menggapai surga dari ridanya.

Alhamdulillah Allah mudahkan jalan, aku bisa lulus dalam target waktu yang relatif lebih cepat. Dan yang membuat aku sangat bahagia adalah saat wisuda aku didampingi oleh lelaki yang paling aku cinta.

Setelah menyelesaikan semua administrasi dan mendapatkan ijazah, aku pamit dari semua orang yang sudah berjasa dalam menempa jiwaku di sudut kota bernama Yogya. Berat memang saat aku harus meninggalkan teman-teman seperjuangan di Pondok Putri Fadlun Minallah, juga saat harus melepas tugas dan berpisah dengan ustazah-ustazah SDIT Luqman Al Hakim Yogyakarta yang telah membimbing dan turut menorehkan pengalaman berharga bagiku. Begitu juga saat harus menuntaskan amanah-amanah lain yang sudah menjadi jiwaku. Namun, tak ada pilihan lain, ladang pahala sudah menantiku, aku tak ingin menyia-nyiakan semua pengorbanan lelaki terkasihku.

Berkereta kami menuju Jakarta, tempat yang sangat bertolak belakang dengan Yogya. Ibarat hulu dengan hilir, timur dan barat, semuanya jauh berbeda, dan aku harus siap menerima perbedaan-perbedaan tersebut.

Dia adalah lelaki yang sangat pengertian, melihat aku mati gaya menunggu kepulangannya, ia kemudian mengizinkan aku untuk tetap bekerja, bahkan ia menjadi pengantar dan penjemput yang setia kecuali saat-saat yang tidak memungkinkan. Kehadiran si sulung tak lama kemudian menambah lengkap kebahagiaan yang kami rasakan. Ia pun hadir saat aku berjuang melahirkan bayi montok untuk pertama kalinya. Ia yang memberiku kekuatan di saat lelah sangat mendera.

Dia bukanlah seorang lelaki yang romantis, namun diamnya memberikan sejuta magis. Tanpa harus meminta tolong ia dengan senang hati membantu meringankan pekerjaan rumah. Ia benar-benar mengamalkan apa yang rosulullah ajarkan:
“Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap istriku”(HR. Ibnu Majah)

Sungguh, aku merasa menjadi perempuan yang paling beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjadi pendamping hidupnya.