Story About You (6)

Story About You (6)

Hidup ini hanya sekali, perbanyak bekal untuk kehidupan abadi nanti. Nikmatilah dunia dalam genggaman tangan saja. Hidup ini hanya sekejap. Jangan tunda untuk berbuat baik sekecil apa pun.

Lebaran tahun ini masih menyisakan sebuah kenangan dengan salah satu sahabat kami. Tahun kemarin, dialah yang menginisiasi pertemuan dadakan kami. Memang dari tahun ke tahun rencana pertemuan alumni selalu tinggallah rencana karena selalu gagal sesudahnya.

Entah kenapa, saat mendapat pesan whatsapp darinya hati tak kuasa menolak. Kemudian dibuatlah “grup samentawis” khusus untuk orang-orang yang bersedia menghadiri pertemuan alumni SMANDA. Ga banyak yang bisa hadir karena memang seperti biasa, kami agak susah menentukan waktu berkumpul mengingat kesibukan kami dan wilayah domisili yang berbeda-beda.

Singkat cerita, akhirnya kami bisa bertemu. Kita berdelapan dan rata-rata sudah membawa buntut masing-masing kecuali teh Iceu karena masih bertugas dan teh Anjun.

Cukup lama kita bercengkrama, bercanda dan tertawa. Bahkan aku sempat mengutarakan rasa iri karena badanku semakin melebar dan pipi semakin chubby. Padahal dulu waktu sekolah kita berkebalikan. Katamu malah iri pada kita yang badannya berisi lemak. Soalnya mau nambah berat badan saja susahnya minta ampun. Kami sih memaklumi, mungkin karena kamu LDM-an jadi semua dikerjakan sendiri, apalagi ada bayi imut yang menemani. Kebayanglah, aku aja merasakan repotnya

Pertemuan diakhiri dengan makan bersama di kedai favorit kita. Kalau ga salah, ini makan siang kedua di tempat yang sama. Pertama dulu sekali saat aku ditinggal pergi sama anak ketiga, dia datang menghibur dan berbagi cerita. Menguatkan hati yang sedang terluka.

Indah sekali jika membayangkan pertemuan itu. Setelah bertahun-tahun kami terpisah jarak, pertemuanlah yang menjadi obat penawar rasa rindu. Semoga persahabatan kami terus berlanjut hingga di surgaNya kelak.

Satu bulan setelah pertemuan itu, terdengar bahwa kamu sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Beberapa hari dirawat tak ada perubahan yang berarti. Kabar terakhir dipindah ke ruang ICU karena kamu dalam kondisi koma.

Tak henti-hentinya kami panjatkan doa untuk kesembuhan kamu dan kesabaran keluargamu. Sungguh, sedih sekali rasanya membayangkan bayi yang jarak usianya tak terlalu jauh dari Faiq harus terpisah jarak dengan bunda tercinta. Begitu juga dengan ketiga kakaknya.

Hingga suatu hari aku mendapat kabar bahwa kamu sudah kembali ke pangkuan Illahi Robbi. Ya Allah, sungguh umur manusia hanya Allah yang tahu. Tak ada yang bisa menebak kapan malaikat maut akan datang menjemput. Saat pertemuan itu tak ada tanda sedikit pun kita akan berpisah di dunia.

Senyummu selalu ceria seperti biasanya. Tak ada tanda-tanda tubuhmu sedang sakit. Saat perpisahan pun kita bersalaman seperti biasa. Tak pernah terbersit dalam hati bahwa itu adalah jabat tangan dan pertemuan terakhir kita. Aku bersaksi bahwa kamu adalah orang baik. Semoga Allah mengampuni semua dosa dan memasukkan kamu ke dalam surgaNya. Aamiin.

Alfatihah.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh