Story About You (5)

Story About You (5)

Bagaimana rasanya saat kamu harus dipanggil dengan nama panggilan yang tidak biasanya? Tentunya ada sedikit rasa yang berbeda. Begitulah aku. Waktu ngajar di sekolah pertama, aku terpaksa ganti nama panggilan karena ada salah satu guru lama yang nama panggilannya sama persis.

Jadi, waktu kecil hingga kini kalau di keluarga aku dipanggil Elis, tapi kalau di sekolah dikenal dengan nama lain. Setelah suami pindah tugas kerja di Serpong, berharap akan bisa mengembalikan nama panggilan, tapi ternyata hanya angan-angan semata.

Begitu saya bergabung di sekolah Sinar Cendekia, ternyata sudah ada dua nama Elis di sana. Jika aku tetap ngotot memakai nama Elis juga ntar jadi triple dong. 😂

Berhubung aku new comer, yo wes ngalah saja, tetap pakai nama panggilan di sekolah sebelumnya. Itulah cikal bakal kenapa aku menggunakan nama panggilan Wina hingga saat ini.

By the way, aku mau cerita tentang seseorang yang namanya kembar. Ya, dia adalah Ms Elis, si kepala TU yang sangat hebat. Awal ketemu rasanya segen banget bertemu dengan beliau. Kharismanya terasa lain walaupun suaranya sangat lembut. Apalagi pas beliau menyodorkan lembar data interview yang harus diisi. Tegang bo!

Awalnya komunikasi kami terbatas karena aku lebih fokus mengajar anak-anak dan posisi kita berbeda lantai. Beliau di lantai 2 sementara aku di lantai 1. Namun, sejak yayasan memberikan amanah tambahan sebagai wakil kepala sekolah mau tidak mau kita harus sering koordinasi. Apalagi saat aku mulai sering membuat pengajuan dana berikut pembuatan laporan dana kegiatan otomatis kami jadi sering berinteraksi.

“Tak kenal maka tak sayang” adalah ungkapan yang sudah sangat populer. Kemudian banyak juga yang mengganti istilah dengan “Tak kenal maka ta’aruf”. Intinya sih hampir sama. Jika kita belum mengenal seseorang maka berkenalanlah. Tak cukup hanya dengan tahu nama. Tapi mencoba mengenal lebih dekat lagi.

Semakin lama, semakin kenal. Semakin banyak interaksi, semakin faham dengan karakternya beliau. Maa syaa Allah, banyak hal yang membuatku kadang merasa sangat kecil, terutama mengenai tingkat kesabaran dan mengorganisir banyak orang.

Jabatannya sebagai kepala TU tak lantas membuatnya otoriter terhadap para staff, sifatnya lembut dan sangat mengayomi. Saat bertemu dengan berbagai macam karakter orang tua murid kesabaran seseorang akan diuji. Terutama saat dihadapkan dengan orang tua yang lebih banyak protes. Beliau selalu menjadi garda terdepan saat ada orang tua yang komplen dalam berbagai hal. Salutnya, semua itu dihadapi dengan senyum dan kepala dingin.

Weh, aku aja yang baru beberapa kali menghadapi orang tua yang emosi sering “spaneng” dan kebawa perasaan. Tak terbayang kan bagaimana beliau hampir tiap hari bertemu dengan berbagai karakter unik orang tua.

Oh iya, beliau itu menjadi kepala TU untuk semua jenjang dari tingkat SD hingga STKIP dengan jumlah murid yang cukup fantastis. Belum lagi menghadapi berbagai karakter unik dari para guru dari semua jenjang tersebut.

Maa syaa Allah, beliaulah guru yang mengajarkan arti sebuah kesabaran.

Rumahmediagrup/wina_elfayyadh