Story About You (4)

Story About You (4)

Kali ini aku mau cerita sahabatku saat kuliah dulu. Namanya Estu Hanani Muflihatun yang biasa dipanggil Hanin.

Sama seperti waktu kenalan dengan Nanih, cara berkenalan dengan Hanin pun sama. Saat Masa Orientasi Kampus kebetulan kami barisnya berdampingan. Mungkin karena jilbab kami sama-sama lebar (eh ga deng lebaran punya Hanin dibandingkan punyaku). Penampilan kami berdua memang cukup terlihat mencolok di kelas, kami bergamis sementara teman-teman perempuan lagi berpakaian modis.

Tanpa terasa, cara kita berpakaian kitalah yang pertama kali menyatakan ikatan persaudaraan di antara kami. Setelah perkenalan singkat, kami langsung cocok dan akrab kayak sudah kenal berabad-abad. Tapi sebenarnya kami berbanding terbalik, dia lembut, santun, berparas cantik dan menyenangkan siapa pun yang melihatnya. Sementara aku grasa-grusu, gedebak gedebuk, sradak sruduk, dan lain-lain (ga jadi umbar aib ah 😁).

Tapi perbedaan itulah yang semakin mengeratkan ikatan persahabatan kami. Dia selalu ada saat aku sedang merasa sepi, selalu menghibur di kala sedang sedih. Bahkan dia orang yang pertama suport saat tahu aku mau nikah di akhir semester 2.

Pengalaman yang paling berkesan adalah saat dia memaksa ikut pulang kampung saat aku mau resepsi pernikahan. Kita naik bis dari Yogyakarta menuju Ciamis dengan rute yang aduhai, mengular dan meliak liuk. Harus kuat mental pokoknya. Eh, dasar Hanin orangnya super lembut dan super baik, dia rela berdiri berjam-jam dan merelakan tempat duduknya untuk orang lain. Padahal dia belum tahu medan yang akan dilalui.

Kalau jarak dekat sih aku juga mau dan rela jika harus berdiri demi orang yang lebih tua, tapi untuk jarak jauh dan medan yang cukup berat aku lebih baik tetap mempertahankan tempat duduk daripada nanti mabuk.

Sesaat setelah memasuki jalan terjal dan berliku, Hanin mulai terlihat pucat. Aku tawarkan duduk berdua dia ga mau, mungkin segan atau gimana padahal aku bisa merasakan betapa pegalnya itu kaki menahan beban dalam durasi yang cukup lama. Tak lama kemudian dia mulai mual. Aku pun panik mencari plastik tapi ndilalahnya plastiknya ga kebawa. Karena sudah tak tahan, akhirnya dia memuntahkan isi perutnya ke dalam gelas air mineral yang sebelumnya sudah dia pegang.

Alhamdulillahnya setelah itu bis berhenti di pom bensin, jadi kami bisa beristirahat sebentar dan membuang “harta karun”. Setelah itu, akhirnya dia mau duduk sebangku berdua. Ga apa-apalah bersempit ria daripada berdiri tapi tersiksa, kan kalau duduk minimal bisa memejamkan mata.

Saat aku lulus duluan, sedih juga sih harus meninggalkan Hanin berjuang sendirian. Kita sempat lost contact juga gara-gara hp Nokia jadulku hancur kecebur air got. Alhamdulillah berhasil tersambung kembali melalui aplikasi biru yang saat itu lagi booming.

Insya Allah, walaupun kini jarak kita cukup jauh, tapi silaturahmi akan terus terjalin. Jika Allah izinkan kami bisa napak tilas di negeri penuh perjuangan, aku berjanji akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya di sana.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh