Story About You (3)

Story About You (3)

“Sahabat itu seperti bintang, dia memang tidak selalu terlihat. Tapi dia selalu ada untukmu”

Benarkah sahabat itu selalu ada walaupun dia tak pernah terlihat? Aku punya cerita spesial yang membuktikannya!

Dia adalah sahabatku sejak SMA. Eh, SD kita sempat dipertemukan dalam sebuah lomba, kalau ga salah dulu lomba murid teladan. Dipilih satu orang per kecamatan. Setelah melalui tahapan seleksi yang cukup panjang, akhirnya terpilih satu orang siswa laki-laki dan satu orang siswa perempuan per kecamatan.

Saat itu aku yang terpilih untuk mewakili kecamatan dan harus belajar ekstra keras hingga hampir 2 pekan menginap di rumah bu Guru. Setiap pulang sekolah hingga menjelang tidur malam terus menerus belajar dan berlatih mengerjakan soal.

Tiba saatnya kami berlomba, aku bertemu dengan perwakilan laki-laki dari kecamatan yang sama, namanya Ramli, dan sepasang perwakilan dari kecamatan tetangga. Kami diabadikan berempat dengan sebuah kamera sederhana milik salah satu guru. Singkat cerita, aku berkenalan dengan anak perempuan mungil dan imut yang bernama Lina Ferlina.

***

Tahun berjalan mengikuti peredaran rotasi bumi. Tak terasa aku sudah lulus SMP dan dengan bangganya mengenakan seragam putih abu pertama kalinya. Bangga dong bisa masuk sekolah bergengsi yang diinginkan oleh banyak pelajar.

Saat MOS (Masa Orientasi Siswa), aku mulai mengikuti kegiatan di sebuah kelas yang terletak agak pojok sebelah kiri dari arah kantin sekolah. Sempat merasa minder dan sedikit menutup diri karena belum ada satu pun teman yang dikenal. Karena aku masuk kelasnya telat, kebagian tempat duduknya berdua dengan siswa non muslim. Ga masalah sih, kita bisa ngobrol akrab dalam waktu singkat.

Di hari kedua, kejutan dimulai. Ternyata aku, Ramli, dan Lina ditempatkan di kelas yang sama. Itu pun tahunya karena Lina menyapa duluan. Mulai saat itu kami semakin akrab bersahabat. Belajar bersama, bermain bersama. Pahit manis berdua.

Kadang aku nginep di rumahnya. Saking akrabnya, aku sudah menganggap ibunya Lina adalah ibuku sendiri. Hingga kini aku masih menjalin silaturahmi terutama saat pulang kampung.

Pernah satu kejadian, setelah latihan PASKIBRA kami tidak langsung pulang. Sengaja main ke Cirebon. Dan tahu ga, itu adalah pertama kami naik eskalator. Hahaha. Panik, tegang, dan ujungnya ngakak berdua.

Kita pulang kemalaman dan sudah tidak ada angkot yang menuju ke rumahku. Otomatis jadinya nginep di rumah Lina tapi tanpa izin orang tua. Hasilnya, hari berikutnya aku jadi tranding topic di sekolah dan mendapat ceramah dari kepala sekolah.

Pokoknya masa SMA adalah masa yang paling indah.

Selesai SMA kami sempat terpisah karena Lina langsung kerja di pabrik dan aku melanjutkan perjuangan di kota Gudeg. Tapi alhamdulillah selesai dia kuliah, kita bisa bekerja di lembaga yang sama, bahkan tetap menjadi pegawai berprestasi juga.

Hal yang paling mengesankan adalah saat pengumuman pegawai teladan tahun kemarin, yang terpilih dari jenjang SD adalah Lina dan dari boarding adalah aku.

Alhamdulillah, walaupun sekarang agak terhambat komunikasi karena tempat tugas yang berbeda, tapi persahabatan tetap abadi insya Allah hingga jannah-Nya.

rumahmediagrup/wina_elfayyadh