Story About You (1)

Story About You (1)

Halo!

Namaku Elsa.

Sstt … Bukan tokoh yang terkenal dalam film Frozen ya. Kalau Elsa di film itu digambarkan sebagai sosok cantik berambut indah, bermata bulat, dan menggemaskan.

Sumber: Google Search

Karakternya digambarkan sebagai sosok anggun dan pendiam. Tapi di balik semua itu, ia menyimpan ketakutan di dalam hidupnya karena memiliki kekuatan membuat es dan salju. Kekuatan istimewa yang hampir saja membunuh Ana, sang adik semata wayang saat mereka masih belia.

Tapi jangan bayangkan kalau aku seperti Elsa yang cantik, menarik, dan punya kekuatan ajaib itu ya! Karena secara fisik hampir berkebalikan kecuali karakter anggun dan pendiamnya bolehlah disamakan. Hehehe.

Eits, jangan salah fokus. Aku bukan mau menceritakan tentang diri sendiri soalnya kisahnya Elsa sudah ditulis dalam buku “Kepompong Yang Menjadi Kupu” (kapan-kapan nanti buat review bukunya ah 😁-red).

Di sini, aku mau menuliskan kisah spesial tentang kamu. Iya kamu! Sahabat-sahabat yang pernah menorehkan kisah indah dalam sejarah hidupku. Kisah yang selalu mengubah kelabu menjadi lebih berwarna walaupun sekadar fatamorgana.

Bahasa persahabatan tidak tercermin dalam kata kata, melainkan dengan arti.

Henry David Thoreau

Hmmm …

Aku mulai dari cerita tentang dia yang selalu ada saat masih berseragam putih merah. Bermain, belajar, bercanda, tertawa, dan apa pun dilakukan bersama. Hingga saat ini nama “Nining Hartini” tetap terukir indah dan menempati posisi istimewa dalam hati sanubari. Tak akan lekang oleh perubahan zaman dan jarak yang membentang.

Sumber: Foto Facebook

Sahabat, masih ingatkah saat kita sering duduk semeja dari kelas 1 SD hingga menjelang kelulusan kita. Tiap hari jalan kaki bersama menuju gedung sekolah di tengah belantara semasa kita berseragam putih biru, walaupun saat itu kita malah seringnya berbeda kelas.

Saat hatiku gundah gulana, engkaulah orang pertama yang hadir memberikan kabar bahagia. Sering kita belajar ngaji bersama di surau tercinta yang kini sudah menjelma menjadi mushola ternama di kampung kita. Itulah kenangan manis bak gula yang tak kan pernah kulupa.

Sayang, kebersamaan kita harus berakhir sampai masa putih biru saja. Saat itu kau segera melanglang buana sementara aku terpenjara dengan rutinitas yang sama di sebuah SMA. Kadang, saat kau pulang sengaja aku berkunjung ke rumahmu hanya untuk bercengkrama melepas kerinduan di dada.

Kini, sudah puluhan tahun kita tak jumpa. Maafkan aku yang jarang bertegur sapa walaupun hanya sekedar chat WA. Bukan tak ingin bercerita, namun aku tak ingin kau ikut merana mendengar liku perjuanganku di kota sana.

Sahabat, namamu sudah terukir indah dan bertahta di singgasana hatiku. Walaupun secara fisik kita tak pernah bersua, namun percayalah doa-doaku senantiasa membumbung berharap mampu mengetuk pintu langit. Semoga kelak kita bisa bertetangga di Surga. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

(ditulis dengan penuh kerinduan)

Bogor, 22 April 2020

rumahmediagrup/wina_elfayyadh