Sok Kreatif

Membaca sangat luar biasa pengaruhnya. Bisa membuat kita introspeksi diri, termotivasi, patah hati, sedih, mawas diri, pecundang, dll. termasuk kreatif atau sok kreatif.

Beberapa hari yang lalu, di kantor sudah ramai membicarakan persiapan menyambut bulan Syawal/Idul Fitri. Biasalah emak-emak zaman know pasti bahan obrolannya tidak jauh dari fashion dan kuliner.

Nah kuliner yang dibahas ini juga variatif. Mulai dari menu buka puasa, menu sahur, sampai minuman dan kue-kue lebaran. Saya yang notabene kurang akrab dengan cara pengolahan resep-resep kuliner jadi membara. Semangat untuk mencoba membuat sendiri kue kebaran semakin menggedor-gedor pintu kreativitasku.

Mulailah kulahap berbagai resep kue lebaran yang bertebaran di google. Instagram, Facebook, dan medsos lainnya. Note Book dan pulpen menjadi saksi sejarah perpindahan resep-resep di medsos ke buku tulis.

Tanpa terasa, sudah berlembar- lembar resep yang kusalin. Kucoba untuk menyeleksi kembali kue apa yang kira- kira cocok di lidah anggota keluargaku.

“Hmmm kue nastar saja deh. Sepertinya mudah dan bahannya pun banyak tersedia. Kue Nastar juga menjadi salah satu ikon lebaran.” Gumam ku seorang diri.

Apakah langsung kubuat kue nastarnya ? Jawabannya ‘ belum’. Saya masih harus mengumpulkan referensi khusus resep- resep kue nastar. Kubuka kembali resep- resep kue nastar di medsos. Ada kue nastar empuk. Kue nastar renyah di mulut, kue nastar renyah dan gurih, nastar keju lumer, dan masih banyak lainnya. Kusalin kembali perbedaan bahan di setiap resep. Bahan intinya semua sama, yakni memakai margarin/ mentega, gula, terigu, telur, dan vanili. Yang membedakan adalah ada yang menambahkan susu bubuk, tepung maizena, madu, butter, garam, keju, roombuter, dan baking powder,

Yang namanya pemula, maka yang terpikir olehku adalah memadukan semua bahan dari berbagai resep tersebut. Hasil yang kuharapkan tentunya adalah nastarku menjadi sesuatu banget. Beda dari yang lain karena keluar dari kreativitas tingkat tinggi. Hampir 5 jam lamanya di dapur dan tidak sia-sia. Nastarku pun jadi 2 toples. Nastarku kuberi nama “Nastar Kre” (nastar hasil kreativitas). He he he

****

Waktu buka puasa pun tiba. Nastar yang berada dalam toples, tak luput menjadi pelengkap menu buka puasa. Setelah comot sana-comit sini, kutawarkan Nastar Kre ke seluruh anggota keluarga yang berada saat itu. Semua mengambi dengan senyum. Aroma kue semerbak bertebaran. Sambil menunggu komentar dari mereka, entah mengapa hati menjadi deg-degan. Galau merana. Khawatir Nastar Kre tidak sesuai dengan ekspektasi. Kutatap dengan saksama ekspresi mereka. Setiap kedipan mata dan kerutan kening mereka menjadi sangat menakutkan olehku.

“Bagaimana rasanya?” Tanyaku hati-hati. Berharap pujian terlontar dari mulut mereka.

“Rasanya kok gini ya, Bun?” Komentar pertama keluar dari putriku yang bungsu.

“enak sih..cuman, apa ya ? Putraku yang pertama juga menambahkan sambil mengamati sisa nastar yang masih di jepitan telunjuk dan jempolnya. Keningnya semakin berkerut.

“Ayah, bagaimana rasanya?” Kali ini aku mencoba mencari jawaban sesuai yang kuinginkan. Yakni pujian dari suamiku.

“Lumayan”. Jawabnya datar.

Kuambil sendiri Nastar Kre untuk memastikan rasa dan teksturnya. Komentar mereka kurang bisa kuterima. Masa Nastar Kre ku kurang enak ? Emang sih, saat membuat nastar tidak ada yang kucoba karena puasa. Semuanya kumasukkan sesuai takaran dan petunjuknya. Walaupun aku juga kurang yakin, apakah sintaknya sudah sesuai atau tidak.

” Kok rasanya gini, ya”. Gumamku sendiri. “Aneh” tambahku lagi. Rasanya teu parugu kata orang Sunda. Akhirnya kuakui juga bahwa Nastarku memang tidak seperti biasanya. Aku tidak jago masak tapi jago makan. Makanya kalau hal rasa pasti aku bisa menilai.

Termasuk menilai bahwa segala sesuatu ada tempatnya, ada waktunya. Jangan sok kreativitas dalam memadu bahan. Semua bahan memang bagus. Tetapi tidak semua bahan cocok dipadu padankan. Kalau berlebihan maka hasilnya tidak baik. Sebagaimana Allah tidak menyukai hal yang berlebih-lebihan.

Nubarnulisbareng/Utyagusriati