SISI KETIDAKSEMPURNAAN

Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh karenanya tidak ada manusia yang sempurna kehebatannya atau sempurna keburukannya. Dua sisi ini akan berdampingan satu sama lain mengatur iramanya sendiri. Namun terkadang, manusia lebih banyak terfokus pada sisi keburukan dalam dirinya sehingga menyeretnya ke jurang kesedihan sampai mendalam. Mengapa demikian? Karena mungkin saja ada tuntutan dari luar dirinya yang menganggap ia harus selalu sempurna dan tidak boleh melakukan kesalahan, sehingga ia takut berbuat salah karena akan dimarahi atau tidak mendapat pengakuan, sehingga tumbuhlah ia dalam sosok yang selalu ingin sempurna dalam segala hal.

Sebutlah seorang anak yang bernama Delima (bukan nama sebenarnya). Ia tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang kuat, tegas dan sempurna. Begitulah Delima kecil menggambarkan sosok ibunya. Delima yang polos seringkali terperangkap dalam rasa takut akan kekuatan ibunya yang bisa kapan saja marah jika ia melakukan sesuatu tidak sesuai harapan ibunya. Memang tidak selalu dalam bentuk kata-kata atau bentakan, namun aura marah yang terpancar dari mata dan wajah ibunya kerap membuat Delima menangis dalam diam dan ketidakmengertian.

Peristiwa demi peristiwa terekam dalam benak Delima hingga ia dewasa. Semua berjalan begitu saja sepanjang jalan kehidupannya. Delima harus selalu berhati-hati agar jangan sampai membuat ibunya kecewa dan marah. Delima tidak bisa melawan kekuatan ibunya dengan kata-kata atau tindakan. Delima hanya bisa mencurahkan ketidakmengertiannya dalam buku harian kecil. Beruntung Delima bisa berprestasi di sekolahnya dan merasakan penerimaan guru-gurunya dengan penuh kasih sayang.

Jadilah Delima hidup di dua alam dengan dua sisi pribadi yang berbeda. Ya, alam sekolah dan alam rumah. Delima yang periang dan berprestasi gemilang di sekolahnya menjadikannya siswa yang aktif dalam berbagai kegiatan dari mulai OSIS, Pakibra, Pramuka dan berbagai kegiatan lainnya. Banyak guru mengapresiasi setiap pencapaiannya. Masa kelas VI SD diraihnya prestasi tertinggi dan naik ke atas panggung sendirian untuk menerima penghargaan tanpa diketahui ibunya. Ia merasakan kebahagiaan sendirian tanpa mengerti bahwa itulah sisi berharga dirinya.

Namun di sisi lain, Delima hanyalah seorang anak yang penakut, mudah sedih, murung dan pendiam jika sedang berada di rumah. Delima memendam semua harapannya tentang menjadi jiwa yang dimanja sebagai anak perempuan satu satunya. Delima tak pernah bisa meminta sesuatu yang diinginkannya. Ia hanya menerima apapun yang ingin dilakukan ibunya padanya. Ya, hanya menerima dalam rasa sakit yang tidak pernah disadarinya. Ia tidak tahu ada luka luka yang dibawanya hingga dewasa. Beruntung setiap luka itu terbalut dengan rasa berharganya saat ia berada di sekolah.

Hingga masa SMA dan kuliah, Delima terus menggapai impiannya seiring rasa gelisah yang sering menghampirinya. Seperti berjalan di tengah badai, Delima rindu kedamaian tapi ia tak bisa menemukannya dimana. Antara bangga akan pencapaian diri dengan perasaan tidak berharga terus menerus berkecamuk dalam dirinya. Pengalaman demi pengalaman yang dialaminya dan tidak ada satu orangpun yang berhasil membuatnya mengerti membuat Delima putus asa. Akhirnya Delima mengambil langkah untuk  segera mewujudkan kehidupan baru dalam dunia pernikahan. Beruntung Delima menemukan sosok cinta sejati pada suaminya. Maka loloslah satu episode dehidup dilalui Delima. Segala kesedihan masa lalu dalam kehidupan bersama ibunya terkubur di tempat yang tersembunyi di dalam hati dan pikirannya.

Di episode berikutnya Delima pun merasakan keutuhan rasa dan tak lagi mengingat hal-hal pahit di masa lalunya. Perhatian dan cinta suaminya membuat ia memiliki hidup yang diimpikannya. Setahun dua tahun berlalu hingga dua puluh tahun kemudian, barulah kembali datang badai saat tidak disengaja Delima telah membuat satu kesalahan kepada ibunya. Satu kesalahan dalam puluh tahun telah membuat ledakan besar yang memporak porandakan pertahanan Delima. Delima tidak bisa memberi penjelasan tentang kebenaran fakta dan  tentang kesalahfahaman ibunya atas persoalan yang terjadi. Delima terjebak lagi dalam rasa takut yang pernah dirasakan pada masa kecilnya. Delima yang mulai mengerti akan watak ibunya yang hanya memandang benar dan salah dalam kacamata beliau saja, tidak lagi menerima perlakuan ibunya sebagaimana ia waktu kecil. Delima memberontak dan melawan yang ternyata semakin mengobarkan amarah ibunya.

Delima menyerah. Luka luka yang pernah disembunyikannya kini menganga dan berdarah lagi. Delima gagal menjaga sesuai yang direncanakannya. Ya, tadinya ia akan menjaga semuanya seumur hidupnya. Bahkan Delima punya rencana untuk memaafkan dan melupakan semua kekecewaan akan sikap ibunya dan akan ia  bawa sampai tiba takdir kematiannya. Hatinya kini menjerit mempertanyakan mengapa ibu tidak pernah menganggapku berharga? Padahal sudah susah payah Delima membuktikan bahwa ia akan membuat ibunya bangga karena ia mandiri tidak lagi menyusahkan ibunya. Betapa mudahnya ibu meluapkan amarah padanya ketika ia membuat kesalahan dalam pandangan ibunya.

Delima tenggelam dalam tangis lagi setelah bertahun-tahun ia bahagia. Delima mencari nafas di tengah  sesak hari-harinya kini. Delima berusaha memahami semua yang terjadi tidak lagi seperti masa kecilnya dulu. Delima menempatkan dirinya di masa kini yang harus mencari pemecahan jika ada masalah dan tidak lagi mendiamkan semuanya menguap begitu saja. Ia mencari jalan untuk melanjutkan langkahnya walau tak sekuat dulu saat menghadapinya. Dipungutnya hatinya yang berserakan, direkatkannya kembali dengan penuh harap sambil meminta bantuan psikolog, konselor dan mentor pengasuhan innerchild dirinya (silahkan baca referensi tentang apa yang dimaksud innerchild).

“Ibu, jika aku tidak berharga di matamu, tolong terimalah sisi ketidaksempurnaanku yang tidak bisa menjadi sosok yang ibu inginkan. Aku menyayangimu tapi aku tidak tahu bagaimana caranya  membuatmu tersenyum. Bahkan setelah usiaku kini menjelang lima puluh tahun dan telah menunjukkan kemandirianku sebagaimana yang berulang-ulang kau hujamkan bahwa aku harus mandiri, mandiri dan mandiri, tapi aku masih gagal membuatmu menghargai usahaku. Kini aku hanya bisa meminta maaf jika aku benar-benar selalu salah dimatamu dan aku hanya bisa mendoakan semoga kebaikanmu yang telah merawat fisikku tumbuh sehat dan hidup sampai kini, dibalas oleh Allah SWT dengan surgaNya yang indah. Aamiin…”  Begitulah bisik lirih hati Delima dalam tangis setiap malam yang dilaluinya kini.

Sifat manusia yang tidak sempurna adalah peluang dariNya untuk bisa merasakan indahnya saling mengerti dan saling memaafkan satu sama lain. Maafkanlah siapapun yang menunjukkan sisi ketidaksempurnaannya di matamu, karena seburuk apapun seseorang pasti ada sisi baiknya yang akan memberi manfaat yang bernilai jika kita mengetahuinya.

NubarNulisBareng/Lina Herlina