SIBUK DENGAN DIRI SENDIRI

Aku adalah satu satunya putri atau anak perempuan yang terlahir dari rahim ibuku. Saudaraku yang lain semuanya laki-laki. Kenyataan ini membuatku merasa sibuk sendiri jika aku -lina kecil- sedang dirundung masalah. Berpikir sendiri, bingung sendiri, sedih sendiri. Sama sekali tidak mengerti bahwa ketidakenakan hati bisa dibicarakan berbagi dengan orang lain termasuk dengan saudara sendiri.

Waktu kecil aku sering merasa ada masalah berupa kesalahfahaman atau ketidakmengertian dengan sikap orang tuaku padaku, terutama ibuku. Dulu aku tahunya tidak boleh melawan orang tua karena bisa durhaka, kalau durhaka masuk neraka, kalau masuk neraka sangat menakutkan dan menyakitkan. Jadi, sakitnya aku saat tidak enak dengan sikap ibuku yang kadang tidak kumengerti itu tidak ada apa-apanya dibanding sakitnya di neraka. Oleh karenanya aku tak pernah menghiraukan rasa sakit dan menganggap semuanya wajar-wajar saja. Walau aku merasa benar dan ingin menjelaskan tapi tidak usah membela diri apalagi melawan. Biarkan saja, lupakan dan lanjutkan hidup. Karena perilaku tidak menyenangkan ibu kuanggap bukan kesalahan maka aku tidak bisa mengharapkan ibu minta maaf padaku. Menyenangkan atau tidak menyenangkan, semua tindakan ibu adalah benar dan konon katanya karena rasa sayang beliau dan demi kebaikanku.

Skip usia 15 sampai usia 45 tahun.

Suatu waktu di tahun 2016 aku merasa sering merasakan gangguan sakit fisik yang tidak jelas sakit apa. Tiba-tiba mudah lelah, mudah sakit pinggang punggung, mudah migrain, sering gangguan lambung dan bahkan sering merasa lemah tak berdaya. Pokoknya aku merasa aktivitas energik ku menurun drastis. Setiap ke dokter selalu didiagnosa kelelahan dan diberi vitamin stamina.

Ah tak apalah biar saja mungkin faktor U yang menyebabkan ku sudah mulai lamban dalam mengerjakan apapun termasuk dalam berpikir. Bahkan sering sekali dihinggapi perasaan gelisah tak tentu seperti selalu merasa badmood atau sensitif mudah sedih. Aku terjebak perasaan ini dalam masa yang lama. Dan kembali ke masa kecilku, aku sibuk sendiri menduga-duga apa yang terjadi denganku. Aku tak bicara pada siapapun dan tak membuka akses berbincang bincang dengan siapapun.

Tanpa sadar, pada saat reuni di tahun 2018 teman teman kuliahku komplain karena badanku yang kurus kering setelah turun drastis dari terbiasa 63 kg ke 51 kg. Pipi yang agak keriput dan tirus. pinggul yang hilang menjadi pembahasan teman-teman. Jujur aku ga ngeh dengan kondisi fisikku. Aku memang merasa baju bajuku lebih longgar dari sebelumnya. Hanya saja ku pikir memang aku kurus karena saatnya kurus setelah melewati masa melahirkan bayi ke 3 putra bungsuku.

Namun setelah sendiri aku merenungkan komplain dari teman teman. Benarkah kekurusanku kurang berkesan bagus. Bukankah setiap orang di usiaku ingin langsing? Tapi kok katanya kalau langsing atau kurus malah jelek. Hmm …Aku pun jadi menyibukkan diri lagi untuk menganalisa tentang kenapa aku bisa drastis kurus. Apakah aku tidak bahagia? Apakah aku ada masalah fisik atau psikis? Sepertinya aku harus mulai mencari tahu tentang mengapa aku jadi begini.

Dan Oktober 2018 aku pun memutuskan untuk menemui psikolog setelah aku berkali kali ke dokter dan tidak ada diagnosa menghawatirkan selain kelelahan. Bagaimana hasil diagnosaku dari psikolog?

– Bersambung di judul yang lain ya …

NubarNulisBareng/Lina Herlina