SIAPA DIA?

SIAPA DIA?

Yulia dan Yunita adalah sahabat dekat meskipun berbeda kampus. Yulia mengambil teknik mesin, cocok dengan karakternya yang sedikit tomboy. Sementara Yunita mengambil jurusan kesehatan masyarakat.

Kondisi ekonomi keduanya bisa dikatakan kurang baik sehingga mereka mencari berbagai cara untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi menambah biaya kuliah.

Ceritanya, Yulia lebih dulu terjun ke dunia MLM. Ia tergiur dengan angka-angka yang tertera pada brosur yang selalu ditunjukkan oleh para upline-nya. Kegigihan Yulia membuatnya beberapa kali berhasil menjual produk sehingga mendapatkan bonus yang lumayan.

Mendengar cerita dan melihat keberhasilan Yulia dalam bisnis tersebut, akhirnya Yunita ikut mendaftar. Walaupun dia tahu resikonya harus ikut training dan waktunya di malam hari.

Malam itu, Yunita pertama kalinya ikut training ditemani oleh Yulia. Semangat mereka terbakar oleh motivasi para senior apalagi malam itu sekalian malam penganugerahan. Beberapa orang yang berhasil menjual produk terbanyak dan mendapatkan downline terbanyak diberikan hadiah yang menggiurkan.

Tak terasa, acara baru bubar jam 11 malam. Pertama kalinya Yunita keluar rumah hingga sangat larut malam. Ia kebingungan, tidak mungkin pulang ke kosannya karena di sana diterapkan jam malam. Jam 9 teng sudah tidak bisa menerima tamu dan tidak bisa keluar kos.

Begitu juga tempat kos Yulia, menerapkan peraturan yang sama. Untungnya, Teh Mawar selaku upline mereka menawarkan untuk menginap di rumahnya. Kebetulan katanya ada kamar kosong. Yulia dan Yunita pun menyetujui daripada mereka tidur di pinggir jalan.

Teh Mawar dan suaminya kelaparan, mereka mengajak Yulia dan Yunita makan dulu. Walaupun segan karena Teh Mawar yang mentraktir, mereka mengiyakan karena tak bisa dibohongi perut terasa keroncongan. Mereka mampir di tempat kuliner malam. Menu yang dipilih adalah capcay rebus.

Selesai makan Teh Mawar dan suaminya pulang lebih awal katanya mau mampir beli sesuatu dulu. Dengan bekal denah yang dibuat suami Teh Mawar, Yulia dan Yunita menyusul di belakang.

Yulia menggantikan Yunita yang mengendarai motor. Yulia sudah siap mengemudi dengan jaket dan helm sudah terpasang rapi. Tak lama kemudian dari kaca spion ia melihat Yunita duduk di belakangnya. Sepanjang jalan rok putih tulangnya Yunita berkelebat sekilas terlihat dari spion.

Mereka asyik ngobrol sepanjang jalan, lebih tepatnya Yulia yang mendominasi memberikan motivasi kepada Yunita untuk rajin menawarkan produk agar bisa menjual banyak produk.

Perjalanan terasa cukup panjang padahal kalau mengikuti denah sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat mereka makan tadi. Saat melewati rumpun bambu tiba-tiba motor Yulia berhenti mendadak.

“Yun, turun bentar dong, aku mau cek bensin.” Kata Yulia tanpa melihat ke belakang.

“Yun, turun …!” teriaknnya karena merasa tidak ada yang menyahut.

Permintaanya diabaikan, dengan kesal ia melihat ke belakang. Namun, perasaan kesal berubah seketika. Bulu kuduknya terasa berdiri semua. Tak ada siapa pun yang duduk di jok belakang. Terus, yang dari tadi ngobrol sepanjang jalan siapa? Jelas-jelas dia melihat kain rok warna putih berkelebat tertiup angin malam. Bahkan sesekali omongan Yulia ada yang menjawab.

Dengan perasaan gusar ia coba menstater motor kembali, alhamdulillah kali itu bisa nyala. Ia segera melarikan motornya ke arah warung tempat makan tadi dengan kekuatan penuh.

Yunita cemberut di depan pintu. Ia merasa sebal karena ditinggal pergi oleh Yulia. Mana handphone lowbat nggak bisa dipakai buat telepon.

Setelah meminta maaf, ia memindai, seluruh tubuh Yunita sebelum mempersilakan duduk di jok belakang. Ia melirik berkali-kali ke arah kaki Yunita, memastikan kakinya menginjak bumi atau tidak. Sepanjang jalan, tak sedikit pun Yulia membuka suara, mungkin trauma atas kejadian sebelumnya.

Sesampainya di rumah teh Mawar, mereka langsung menuju kamar yang kebetulan pintunya langsung ke luar jadi tidak perlu membangunkan yang punya rumah. Saat Yunita hendak menutup pintu kamar, ia terpekik dan langsung menutup mulut.

“Kenapa Yun?” tanya Yulia sambil mendekat.

Yunita hanya menunjuk ke luar yang cukup remang-remang. Yulia hampir teriak apalagi kejadian di motor masih segar dalam ingatannya.

Sosok berpakaian putih dengan rambut panjang terurai acak-acakan mendekat ke arah mereka. Di tangannya tampak sebuah golok mengkilat terkena sinar lampu jalan. Ingin rasanya Yulia dan Yunita segera menutup pintu kamar, namun apa daya, badan terasa kaku tak bisa bergerak sedikit pun.

“Woy, anak gadis nggak baik keluyuran malam-malam.” Suaranya mendesis terbawa desau angin malam.

“Kalau mau main, kita main perang-perangan saja.” Katanya sambil mengangkat golok di tangannya.

Badan Yunita mulai melorot ketakutan.

“Ki-ki-kita mau tidur kok, ja-jangan ganggu kami.” Yulia memberanikan diri dengan hati yang ketar ketir.

“Yah, kalian mah nggak seru. Diajak main malah mau tidur.” Mulutnya mencebik.

“Ya ampun, nenek, dicariin di kamar nggak ada, ternyata di sini.” Teriak Teh Mawar tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

“Udah malam nenek, besok lagi mainnya.” Bujuknya lagi.

“Maaf ya Yul, Yun, nenek saya sudah pikun. Kayak anak kecil, suka ngajak main tapi nggak inget waktu.” Jelas Teh Mawar merasa nggak enak hati.

“Jadi ini nenek teteh?” tanya Yulia dan Yunita bersamaan.

“Iya, dia suka berhalusinasi. Dulu cita-citanya jadi aktris tapi gagal audisi. Jadi kalau pas halunya muncul suka begini.” Teh Mawar terkikik geli.

“Itu goloknya bahaya Teh, diamankan saja.” Yulia memberikan usul.

“Cuma golok mainan kok. Malah biasanya buat garukin punggung nenek kalau gatal.” Tawa Teh Mawar berderai menular ke dua gadis yang tadi hampir mati berdiri.

“Ya Allah, untung neneknya Teh Mawar.” Bisik Yunita mengelus dada.

Yulia mengangguk pelan sambil tersenyum. Mereka menjatuhkan badan hampir  bersamaan setelah Teh Mawar membawa nenek masuk ke dalam rumah.

Sambil memejamkan mata, Yulia beristighfar dalam hati mengingat kejadian aneh yang dia alami. Namun, ia tak ingin bercerita kepada Yunita. Biarlah cerita aneh yang tadi ia simpan sendiri. Semoga ke depan lebih hati-hati dan mawas diri. Dan benar kata si nenek, anak gadis harus pandai menjaga diri dengan tidak keluyuran di tengah malam hari.

_Wina Elfayyadh_