Sewaktu Juara 1 Nasional di UMPRI Pringsewu_Wahyu Hidayat

Kisah Cuil

Jendela rumah cuma bergeming. Di seruang kamar, aku cuma menikahi sepi, perabotan yang seolah mencemooh, berikut puisi yang seakan menarik-narik jemariku biar diksi lekas selesai dan utuh.

Layar androidku menyala, ada pesan lain. Ini seperti informasi setengah penting. Yusnia, adik tingkatku yang masih semester awal itu memberi kabar sekaligus perintah agar aku mengikuti lomba menulis puisi di UMPRI Pringsewu. Beberapa informasi itu seperti kabar kabur. Lomba tersebut dikabarkan hanya untuk perguruan tinggi se-Indonesia jurusan PGSD saja. Makanya aku tak seberapa respon dengan pesan dari si Yus.

Hari seperti digiring detik. Subuh ke isya sudah beberapa kali saling putar. Aku pun sempat memikirkan lomba itu lantaran tingkatannya nasional. Kalau masuk 5 besar sepertinya sudah keren. Aku pun bertanya kepada panitia lomba. Ternyata lomba tersebut untuk umum. Aku lekas membuka laptop yang debuan. Ada puisi lama yang tak selesai. Kebetulan saat kutanya panitia, ternyata lomba tersebut untuk umum. Tetiba ada suatu ingin untuk melanjutkan puisi yang tak jadi itu. Kebetulan juga lomba sudah batas akhir, jadi kulanjutkan saja. Dan jadilah puisi dengan judul “Mekhanai Pulang ke Peluk-Cium Ibu!”

Selepas mengirim dengan penuh keyakinan, aku cuma menunggu hasil dari para juri. Setelah beberapa hari, di internet dan beberapa berita membikin senyumku amat lebar. Ya, aku mendapatkan juara 1 lomba menulis puisi nasional di UMPRI Pringsewu. Senang tentunya. Aku tak lupa sujud syukur.

Ratu Abung, 9 April 2020

Rumahmediagrup/awiyazayan

2 comments