Sepotong Rahasia Hidup

Sepotong Rahasia Hidup

“Mami, lempar sini bolanya,” teriak Rahmat.

Ratna mengambil bola yang menggelinding ke arahnya. Ia lalu tersenyum melihat anak laki-laki yang melambaikan tangan padanya. Menjadi ibu tunggal memang tidak mudah, beruntung ada mamanya yang selalu mendukung.

Ratna ingat tujuh tahun yang lalu, saat itu dirinya masih menjadi mahasiswi semester tiga. Gadis cantik bertubuh mungil itu rupanya sedang didekati Adam, teman satu angkatannya. Kala itu, hati Ratna selalu berbunga-bunga dengan perilaku dan sanjungan Adam.

“Mama enggak suka kamu dekat-dekat dengan dia!” sergah mama pada Ratna ketika Adam selesai mengunjungi rumahnya.

“Kenapa, Ma? Adam baik, kok. Dia satu angkatan aku. Jadi, aku kenal betul dengannya.” Ratna tak habis pikir mengapa mama tidak menyukai Adam.

“Ratna, orang tua itu lebih tau mana yang terbaik untuk anak-anaknya,” ujar mama.

“Mama kolot! Aku ini sudah kuliah, tapi Mama masih melarang punya pacar dan terlalu selektif. Gimana kalau nanti anak mama ini enggak laku lagi?” Ratna membanting pintu kamar lalu menangis sambil menutupi wajah cantiknya dengan bantal.

“Astaghfirullah, Ratna!” tegur mama dengan nada tinggi.

Mama terduduk seraya memandangi foto keluarga yang terpajang di dinding. Ia menangis sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Air mata yang ditahan sedari tadi, kini tumpah ruah tak terbendung lagi. Wajahnya yang mulai berkeriput memerah dan terasa memanas.

Mas, lihat anak kita. Dia tidak lagi mau mendengarkan. Seandainya kamu masih di sini, pasti kamu ikut membantuku mendidiknya. Namun, ternyata Tuhan sangat menyayangimu. Aku rindu, Mas, batin mama.

Ratna tetap tidak mengindahkan nasihat mama. Ia malah menerima pernyataan cinta Adam. Gadis bermata jeli itu tenggelam dalam candu asmara. Sementara Adam, ibarat kucing yang setiap hari bertemu tikus, hasratnya pun tak terbendung lagi.

Zina. Mama melarang Ratna berpacaran karena bisa mendekatkan pada perilaku mudarat tersebut. Namun, ternyata sang buah hati tidak juga mampu memahami. Di mata, pikiran, dan hatinya saat ini hanya ada Adam. Sang pangeran dengan pelukan yang memberi kenyamanan tiap kali ia bertengkar dengan mamanya.

Bagi Ratna, Adam adalah sosok yang paling mengerti dirinya. Ia seakan menemukan sifat almarhum sang papa di dalam kekasih tercintanya itu.

“Sayang, apa kamu sayang sama Mama, Nak?” tanya mama di suatu malam.

“Kenapa Mama bilang begitu?” Ratna balik bertanya.

“Kalau kamu sayang, maka dirimu tidak akan membiarkan Mama masuk neraka karena perbuatanmu.” Tatapan Mama menggambarkan keseriusan ucapannya.

“Mama ini ngomong apa, sih? Pasti masalah Adam. Ratna ini sudah besar, Ma. Sudah ngerti hal-hal gitu dan bisa menjaga diri sendiri.” Tampak sekali Ratna gusar dan tidak nyaman dengan topik pembicaraannya.

Mama menghela napas panjang dan membelai lembut kepala Ratna. Ya Allah, berilah hidayah pada anakku, doa mama di dalam hatinya.


Hujan turun tiba-tiba, mengguyur bumi dengan tergesa. Titik-titik airnya besar dan rapat. Diselingi gemuruh guntur dan petir yang berkilat-kilat. Hari itu Adam mengantar Ratna pulang melalui rute yang lain. Entah karena terlalu asyik berbincang di atas motor, atau karena ingin berlama-lama dengan sang arjuna, Ratna tidak protes ketika diajak melewati hutan dan sawah.

“Dam, neduh dulu, yuk! Basah, nih,” ajak Ratna.

“Neduh di mana, Yang? Kiri-kanan hutan.” Adam terus memacu kuda besinya.

“Ya, lagian kenapa, sih, lewat sini? Enggak lewat jalan biasa aja. Sekarang repot sendiri, kan,” gerutu Ratna.

“Tuh, di sana ada rumah kosong. Berani ga kalau berteduh di sana?” Adam menunjuk sebuah rumah kosong yang terletak di atas bukit, tak jauh dari posisi mereka.

“Ya, deh. Ayo!” Ratna menyetujui ucapan Adam. Walaupun sebenarnya ada rasa takut di hati gadis itu. Berada di rumah kosong, hanya berduaan saja. Seketika ia teringat ucapan mamanya.

Semoga mama salah. Adam, kan, anak baik-baik, pikir Ratna.

Tiga puluh menit sudah berlalu, hujan tak jua menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Udara dingin kini semakin menjadi. Sementara langit mulai gelap. Angka jam di layar ponsel Ratna sudah menunjukkan pukul 18.00. Gadis itu tampak mulai gelisah.

Di saat seperti itu, Adam melingkarkan tangannya ke pinggang Ratna. Ia juga mendekatkan wajahnya, hampir hanya tersisa setengah sentimeter.

“Jangan takut, Yang. Kita tunggu sampai reda, ya,” bisik Adam.

Petir menggelegar, daun-daun basah, angin bertiup semakin kencang. Kegelapan tanpa penerangan, membungkus rapat kejadian hari itu. Ratna telah mewujudkan ketakutan sang mama. Menobatkan dirinya menjadi anak durhaka.

Tiga bulan telah berlalu. Seorang gadis tengah menangis sendiri di toilet kampus. Ia memandangi strip bergaris dua yang masih dipegangnya. Gadis itu tak tahu harus melakukan apa. Tanpa pujaan hati yang telah diputuskan karena tertangkap berselingkuh minggu lalu. Dirinya merasa kotor dan berdosa.

Gadis itu adalah Ratna. Ratna yang telah tak mengindahkan nasihat mamanya, menuruti bisikan setan, dan akhirnya terpuruk tanpa masa depan. Ia tak berani pulang, apalagi memberitahukan yang sebenarnya. Hanya ada satu jalan di benak dia. Kematian.

Seisi gedung dekan heboh, setelah seorang petugas kebersihan menemukan Ratna tergeletak dengan lengan bersimbah darah. Dosen, para mahasiswa, termasuk Adam, menyaksikan gadis cantik itu mengerang kesakitan. Beberapa petugas medis datang dan dengan sigap membawanya ke rumah sakit terdekat.


“Sayang, Alhamdulillah. Dok … Dok … Ratna siuman!” Mama berlari sembari berteriak memanggil dokter. Tak lama kemudian ia kembali bersama dokter dan paramedis lainnya.

“Ma … Maafkan Ratna. Seharusnya Ratna mendengarkan Mama. Ratna …, sudah berdosa sama Mama.” Mama menutupkan jari telunjuknya ke bibir Ratna. Ia tersenyum dan memeluk anak gadisnya itu.

“Hanya Ratna yang Mama punya. Papa sudah tidak ada, Mama enggak mau Ratna juga meninggalkan Mama,” ujar mama.

“Tapi, Ma ….” Ratna tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya mampu menangis dan merasa sangat menyesal.

“Kita besarkan anakmu ini. Kalau kamu gugurkan, maka tidak hanya dosa zina, durhaka yang kamu terima, tetapi juga dosa atas pembunuhan. Mama sudah maafkan, tetapi tolong jangan diulangi lagi,” ucap mama.


“Mami! Mami! Bolanya!” teriak Rahmat membuyarkan lamunan Ratna. Ia menatap laki-laki kecil yang kini menjadi penguat langkahnya.

Aku akan membesarkan dia dengan baik, seperti janjiku pada mama, batin Ratna.

Gambar: pixabay

Nubar-Nulis Bareng/Asri Susila Ningrum