Seperti hari yang lain

Dini hari, aku sudah menyiapkan diri. Menunggu adzan subuh, sholat dan bersiap pergi.

“Jangan berangkat pagi ini, Bun.” Suara si kecil menghentikan langkahku.

“Kenapa?”

“Ngak apa-apa. Aku ingin Bunda di rumah saja.” Ia memelukku dari belakang.

Kubalikkan tubuh, dan mengambil posisi berlutut. Sekarang tinggi kami sama dan bisa berpelukan.

“Kalau Bunda tidak berangkat, nanti nggak bisa beli lauk buat makan siang dan malam.”

“Aku makan dikit aja, Abang juga dikit. Hari ini Bunda di rumah saja.”

“Kalau Bunda di rumah, nanti bosnya marah. Adek mau bunda kena marah?” syukurlah sulungku ikut nimbrung. Ia gendong adeknya dan membawanya ke rumah. Aku mengikuti mereka.

“Adek main sama Abang, ya. Nanti setelah kerjaan Bunda selesai, Bunda segera pulang.” Kuciumi wajahnya berulang-ulang. Menguatkan hati dan melangkah pergi.

Kami hanya bertiga. Dulu, suamiku bekerja di Malaysia sebagai TKI. Buruh di ladang sawit. Tiga bulan pertama ia rutin mengirim uang belanja. Namun setelah itu tidak ada kabar berita. Ini sudah memasuki tahun kedua. Aku tidak tahu harus menghubunginya kemana. Keberangkatannya bersama dua orang temannya, setahuku tanpa sponsor. Entahlah. Aku tidak mengerti. Keluarga kedua temannya juga punya cerita yang sama denganku. Aku hanya bisa mengirimkan doa untuknya. Semoga dia baik-baik saja.

Bersyukur aku dapat tawaran dari Pak Herman, kepala lingkungan, untuk jadi honorer di Dinas Taman Kota. Tugasku menyapu jalan yang harus kuselesaikan sebelum jam delapan pagi. Lalu mengulanginya lagi di sore hari. Setidaknya masih ada penghasilan untuk makan sehari-hari.

Aku juga kerja serabutan, di komplek dekat rumah. Membersihkan taman, menyetrika pakaian, dan kadang jadi tukang cuci piring saat ada perhelatan.
Pekerjaan apa saja, yang penting halal.

“Coba pakai yang ini!” Mandorku menyerahkan masker baru. Aku membacanya, N95.
Ohhh… ini masker yang bagus itu, batinku dalam hati.

Kami semua memasang masker tersebut. Bergerak ke area masing-masing dan memulai pekerjaan.

Sudah dua minggu jalanan tidak lagi sepadat dulu. Mungkin karena banyak yang tidak bekerja ke kantor. Lumayan berdampak pada kerjaku, karena berkurang sampah-sampah yang mereka lempar dari mobil mewahnya.

Wabah ini membuat orang-orang membatasi gerak. Namun untuk kami tidak.
Semua berlangsung seperti biasa. Sehari-hari kami juga bermasker ria. Hanya saja sederhana. Hari ini Alhamdulillah diberi masker baru.

Hmmm… semoga semua kembali normal.
Kulihat semburat cahaya dari arah timur mulai bersinar.
Pagi yang indah sekali, Matahari tersenyum penuh ceria. Pendar cahayanya perlahan menjadi sinar yang menghangatkan. Warnanya yang kuning terang, menyapu daun-daun di sepanjang jalan. Harmonis.

Sebentar lagi tugasku usai. Mampir ke pasar, belanja sebisaku, pulang, dan memulai rutinitas di rumah. Menjelang sore aku akan kembali ke sini.
Ritmenya sama. Tak ada yang berbeda.

Nulis bareng/ Maulina Fahmilita