SEPENGGAL MEMORI PUTIH ABU-ABU

Di sekolah setiap murid diwajibkan untuk mengikuti minimal satu kegiatan ekstra kurikuler. Nina dan beberapa orang temannya memilih mengikuti kegiatan rohis. Kebetulan Nina baru saja berhijab, dia ingin lebih banyak lagi mendapatkan ilmu untuk memantapkan hatinya.

Hari Minggu pagi Nina sudah bersiap ke sekolah untuk mengikuti kegiatan ekskul. Sesampainya di sekolah Nina langsung menuju masjid sekolah, tempat diadakannya ekskul rohis. Tampak beberapa kakak kelas pembina sudah hadir menyambut peserta baru.

Tak lama acara dimulai. Pembukaan dan sambutan dari ketua organisasi sudah selesai. Selanjutnya dibentuklah kelompok-kelompok kecil dengan seorang kakak kelas sebagai pembimbingnya.

Nina satu kelompok dengan Amirah, teman sekelasnya. Mereka berdua unik, memiliki wajah yang mirip bagai kakak beradik. Namun sama sekali tak memiliki hubungan saudara.

Di kelompok kecil, semua memperkenalkan diri agar lebih akrab lagi. Lalu dilanjutkan dengan membaca Al Quran secara bergantian. Tak banyak, setiap orang cukup membaca 5 ayat saja. Ketika tiba gilirannya, Nina tampak sedikit kikuk dan grogi karena dia merasa belum terlalu lancar membaca. Untungnya kakak pembimbing dengan sabar memperbaiki jika ada kesalahan dalam membaca.

Kegiatan ekskul diakhiri setelah mereka semua salat dhuhur berjamaah. Nina pun pulang bersama Amirah, kebetulan rumah mereka searah.

“Nin, kalau boleh aku kasih masukan. Sebaiknya dalam membaca Al Quran, diperhatikan panjang pendeknya. Soalnya itu akan mempengaruhi artinya. Tidak semua dibaca panjang,” bisik Amirah saat mereka berdua berjalan menuju gerbang sekolah.

“Iya Mir, padahal aku sudah dipanggilkan ustad ke rumah untuk mengajariku mengaji. Ah, entah kenapa masih seperti ini saja?” sesal Nina.

Dalam hati dia bertekad untuk lebih serius lagi dalam belajar membaca. Ucapan Amirah bagai sebuah tamparan halus, tidak menyakitkan karena Nina tahu itu diucapkan Amirah justru karena rasa sayangnya. Ucapan Amirah justru memicu semangatnya untuk dapat lebih baik lagi.

Tahun-tahun terus berlalu, siapa sangka kejadian di masa putih abu-abu itu telah merubah diri Nina yang sekarang. Nina tersenyum memandang sekelilingnya. Deretan bangunan megah dengan masjid di tengahnya.

Ya, saat ini Nina telah memiliki sebuah pondok pesantren yang dia dirikan bersama suaminya. Pondok khusus bagi para penghapal Al Quran. Nina berharap kelak tak ada lagi anak yang seperti dirinya di masa lalu.

Kisahnya di masa putih abu-abu lengkap dengan ucapan Amirah, selalu dia jadikan kisah penggugah semangat para santri baru. Dia tidak malu, justru dia ingin semua santrinya dapat mengambil hikmah dari kejadian di masa lalunya itu.

Nubarnulisbareng/Ria Fauzie