SEPENGGAL KISAH PERJALANAN SM3T (SARJANA MENDIDIK DAERAH TERDEPAN, TERLUAR, TERTINGGAL) BAGIAN 1

SEPENGGAL KISAH PERJALANAN SM3T (SARJANA MENDIDIK DAERAH TERDEPAN, TERLUAR, TERTINGGAL) BAGIAN 1

-puncak gunung Humau Amfoang Selatan-

NTT Hit Pah Hit Nifu, Hit Pah Alekot

NTT Tanah Air Kita, Tempat Kita yang Baik

Ini merupakan catatan perjalananku pada tahun 2015-2016. Penuh kisah selama 1 tahun di tanah timor, tanah NTT. Tanah yang sebelumnya pernah aku tapaki sewaktu kecil dulu, hanya saja kali ini terasa jauh lebih istimewa. Suatu kebanggaan untukku bisa bergabung menjadi bagian dari keluarga SM3T. Program yang menginspirasi ini membawaku mengenali kembali siapa aku. Mengajakku melewati satu jalan perubahan hingga akhirnya menjadi aku yang baru, yang lebih baik tentunya InsyaAllah. SM3T bagiku seperti gerbang masuk menuju ke salah satu dunia baru, sebuah petualangan dengan begitu banyak keseruannya baik suka maupun duka. SM3T seakan mengucap langsung kepadaku, “Selamat datang pejuang pendidikan, inilah NTT, inilah sisi lain tanah air Indonesia… selamat berpetualang, selamat mendidik, selamat belajar, selamat mengabdi, dan selamat bersenang-senang disini”.

My Teach My Adventure, Mendidik adalah Petualanganku (1)

-bersama murid PAUD Imanuel Ohaem-

Mendapat tambahan 3 huruf di belakang nama kusadari menjadi satu tanggung jawab besar dalam hidupku. S.Pd, hanya 3 huruf namun kusadari perlu di maknai secara benar dan penuh rasa tanggung jawab. Banyak pertanyaan yang muncul saat gelar itu tersemat, “pantaskah aku menjadi seorang guru? Benarkah ini jalan yang akan aku tempuh?”. Demi menjawab semua pertanyaan itu, SM-3T kuharapkan menjadi salah satu sumber yang memberi jawaban dan memberi penguatan kepadaku akan pilihan hidupku sebagai seorang pendidik.

SM-3T tidak pernah kutulis dalam lembar catatan hari esokku. Orang tua tidak menyetujuiku ikut program ini. Harus aku bujuk dan beri pengertian agar orang tuaku mau mengikhalaskan puterinya pergi jauh. Akhirnya, setelah 3 kali proses pembujukkan itu ku lakukan, ibuku merelakanku untuk ikut dan pergi merantau jauh darinya. Ibu hanya berucap, “semoga kamu dapat di NTT saja”. Alasan ibu berucap seperti itu adalah karena kami sekeluarga pernah tinggal di tanah NTT, satu hal itu mungkin yang bisa membuat ibuku tenang. Maka, doanya pun terjawab. Masih terekam jelas bagaimana perasaanku saat pertama kali menginjakkan kaki di Kupang. Gugup, takut, senang, antusias, semua berbaur menjadi satu. Masih teringat jelas juga ketika air mata mengalir kala tiba di Lelogama, kota kecamatan Amfoang Selatan. Saat itu aku baru tersadar akan kenyataan dimana akan aku habiskan hari-hariku selama 1 tahun di penempatan. Suasana lingkungan yang begitu jauh berbeda dengan tempat tinggalku di Jakarta memberikan kesan pertama yang membuatku berpikir, “bisakah aku menjalani tugasku ini?”

bersambung…