SEPANJANG JALAN KENANGAN

Buntu. Entah kemana harus dituju. Berjam-jam di depan laptop  mencoba menorehkan ide yang sempat bersliweran dalam benak. Namun begitu jari siap di atas tuts keyboard. Hup! Semuanya hilang. Tak ada kata, tak ada cerita, tak ada bisikan dalam dada yang tadi bergantian bersuara merangkai sebuah karya.

Sebentar aku berhenti. Membiarkan monitor terbuka. Ku pejamkan mata sejenak. Menarik nafas panjang. Mengirup udara dari hidung dan menghempaskannya dari mulut. Ah! Apa ini rasanya sesak sekali.

Ku coba sekali lagi, lagi dan lagi.  Ya, sesak itu semakin terasa. Begitu berat mengapit jantungku. Apa ini?

Ku buka mata. Hasratku menarik tangan untuk standby memeluk mouse, mata mencari file-file pada directori D: entah apa yang apa yang ku cari. Hanya saja file yang penting aku simpan disana. Karena kalau disiman pada directori C: maka file akan hilang jika virus melanda atau ada gangguan aplikasi.

Semua aku buka satu persatu. Tibalah tanganku pada folder foto. Di dalamnya masih ada lagi folder-folder secara apik aku simpan sesuai kejadian dan konten. Foto-foto keluarga, foto teman kantor, foto kegiatan selama aku bekerja, foto serba serbi dan foto pribadi.

Klik, tanganku membuka folder foto pribadi. Masih ada lagi folder-folder. Ada satu nama folder namanya tidak biasa. Folder delete. Lho kok namanya folder hapus. Tapi kok tidak dihapus? Dengan penasaran pake sangat, aku membukanya.

Klik!

Deg ….. serrr …

Tiba-tiba hatiku bergolak, entah seperti apa, sulit digambarkan dengan kata-kata. Bisa rindu, benci, bahagia, kecewa, berharap, menyesal ah, entahlah.

Satu persatu ku buka dengan diperbesar. Apakah kenangan ini yang membuat dadaku sesak? Aku terlalu merindukannya. Hingga kenangan itu ingin aku hapus dari memoriku. Ya, dari memori laptopku, mungkin bisa ku hapus tanpa meninggalkan jejak. Buang ke tempat sampah, lalu di empty, dan hapus history. Bersih, taka da lagi yang tersisa. Kenangan itu musnah.

Lalu bagaimana dengan kenangan yang tersimpan dalam hati, bisakah aku hapus? Semakin ku coba untuk menghapusnya semakin kuat memori itu melekat. Kenangan sepanjang jalan itu telah menorehkan bahagia sekaligus luka.

Yang bisa ku lakukan kini hanyalah berdamai dengan masa lalu, berdamai dengan gundahku, dan biarkan kenangan itu ada, untuk mengingatkan bahwa pernah ada bahagia antara kita.