SEMBILU HATI

Perih tapi tak berwujud
Luka tapi tak berdarah
Sesakit itukah?
Gelayar aneh yang meraba sebagian hati
Ku usap perlahan di iringi embun mata

Pernah kau tanyakan padaku
Boleh kah kupinjam nama mu?
di sepertiga malam ku, tuk’ku diskusikan dengan Tuhan ku?
Seketika jiwaku menjerit riang

Berbisik lembut ku katakan
Selipkan namaku selalu di dalam doamu bila berkenan
Karena tanpa kau minta
Namamu ada di setiap doa-doa panjangku

Mencoba merelakan
Padahal enggan dan tak pernah bisa
Mencoba menepi, mengusir rasa sepi
Tapi sudah tak mungkin lagi

Beralih dan semakin menjadi
Kuat seperti akar pohon itu
Yang selalu bertahan apapun yang terjadi
Meski pada akhirnya waktu yang berkata
Meski angin berhembus kencang

Semakin dalam
Namun terkadang ia rapuh
Lupa untuk siapa selama ini ia bertahan
Terkadang lelah menghantui
Namun jika denganmu aku tak mengapa
Jika aku harus bangkit sendiri, aku tak mampu

Namun ketika senyum itu terukir
Lupa sudah segala luka dihati
Sembuh seketika perih yang tersayat sembilu
Semudah itulah aku
Serapuh itulah hatiku
Tanpa sadar, senyum manis ikut menghiasi wajah sayuku.

Nubarnulisbareng/Dini Maysayu

2 comments