Semangat Sahur Pertama

“Qifa, Haziq, Rohiq, ayo segera tidur.” Perintahku ke anak-anak. Jarum jam dinding terlihat menunjukkan pukul 21.00 WIB. Besok pagi sahur pertama. Jadi, anak-anak harus tidur lebih awal biar nanti tak sulit membangunkannya.

Mendengar teriakanku, anak-anak langsung berlari ke kamar. Masih dengan celotehannya yang sangat berisik dan menggemaskan. Sabar. Kucoba menahan diri untuk tak berteriak lagi. Sambil persiapan tidur, kutanyakan pada mereka lauk apa yang mau disiapkan untuk makan sahur.

“Ayo, anak-anak besok mau dibuatin lauk apa buat sahurnya?” Tanyaku ke mereka.

“Aku, mie pedas pakai kuah dan telur ceplok ya Mik.” Jawab Qifa.
“Aku, telur gongso kecap saja.” Sahut Haziq.
“Kalau de ohiq, telur mata sapi.” Rohiq yang sebentar lagi berusia 4 tahun ikut menjawab.

“Oke. insyaAllah nanti Ummi siapkan semua lauk yang kalian pesan tadi. Sekarang waktunya tidur. Jangan lupa baca doa tidur.” Kataku sambil mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.

Kupasang alarm di handphone tepat pukul 03.00 WIB. Berharap besok pagi bangun lebih awal dan bisa leluasa menyiapkan makan sahur tanpa harus terburu-buru dikejar waktu imsak. Ada rasa khawatir juga. Ramadhan kali ini jelas berbeda dengan tahun sebelumnya.

Pandemi Corona membuat aktivitas Ramadhan seakan dibatasi. Salat tarawih yang biasanya berjamaah di masjid dihimbau dikerjakan di rumah. Kalaupun di masjid, harus mematuhi segala peraturan, pakai masker dan berjarak shafnya. Tak ada lagi tadarusan bersama selepas salat tarawih. Para jama’ah langsung membubarkan diri begitu salat tarawih selesai dikerjakan. Ah, jangan-jangan besok pagi pun, tak ada lagi suara murottal dan ajakan sahur dari masjid yang biasa terdengar di tiap sahur Ramadhan tahun sebelumnya.

Ya Allah, bebaskanlah kami dari wabah ini segera mungkin. Agar kami bisa leluasa menikmati indahnya Ramadhan kali ini. Malam pertama di bulan Ramadhan semakin hanyut dalam keheningan. Tak ada lagi suara anak-anak mengaji di masjid yang biasanya terdengar sampai larut malam. Tinggal bunyi jangkrik yang seakan menambah kesunyian malam.

Kring…kring…kring…
Bunyi alarm terdengar nyaring di telinga. Sengaja handphone kutaruh di rak atas dekat kepalaku. Agar sewaktu-waktu bunyi, langsung terdengar. Ku beranjak bangun dan mencuci muka. Segera ku siapkan lauk pesanan anak-anak. Untuk aku dan suami, cukup lauk ala kadarnya, sisa lauk makan malam.

Begitu hidangan sahur sudah siap. Segera ku bangunkan suami dan anak-anak. Alhamdulillah, tak butuh lama untuk membangunkan mereka. Hanya dengan berkata, ” ayo, sahur-sahur. Semua pesanan lauk sudah siap. Sebentar lagi imsak.” Mereka semua bergegas untuk bangun. Makan sahur pertamapun terasa nikmat. Apalagi dengan menonton film Omar yang ditayangkan satu channel TV selama bulan Ramadhan.

Sahur pertama tanpa kendala apapun. Alhamdulillah, masih bisa makan sahur dengan lauk ala kadarnya. Semoga sampai sahur terakhir Ramadhan kali ini, bisa lancar dan tetap semangat meraih keberkahan di dalamnya.

Rumahmediagrup/ummutsaharo/ummuhanik/temawajib2/april