Selalu ada pertama kali

Pertamakalinya berkunjung ke dokter gigi di negara yang bahasanya berbeda dengan bahasa keseharian saya, banyak sekali tantangannya.

Kali ini saya ingin bercerita tentang pertama kalinya saya berkunjung ke dokter gigi. Setelah sekian lama tidak berjumpa dengan dokter gigi, yang memang selalu saya hindari, akhirnya harus janjian juga. Karena gigi geraham atas saya berlubang dan sakit kalau mengunyah makanan. Sudah saya atasi sakitnya dengan mengkonsumsi paracetamol 500mg eh tidak mempan. Saya menyerah dan berangkat ke dokter gigi.

Dokter gigi di Thammasat University Hospital ramah-ramah dan masih muda-muda. Kalau yang seumuran dengan saya, bisa dihitung dengan jari hehe. Sebagai pasien, saya jadi serasa tua sendiri. Ketika nama saya dipanggil, saya masuk ke salah satu bilik. Kemudian dokternya memperkenalkan diri dengan bahasa Thailand. Saya bilang bahwa saya tidak bisa berbahasa thailand apakah dokter bisa berbahasa inggris. Dokter dan perawat saling pandang. Lalu masing-masing sibuk buka gawainya membuka kamus hihi. Geli juga lihatnya. Tapi mau gimana lagi. Saya blank banget bahasa thailand. Yang saya tahu cuma ucapan terimakasih saja, khop khun kha, saja. Yang lainnya tidak.

Akhirnya saya jelaskan saja bahwa saya ke sini karena gigi geraham atas sebelah kanan berlubang dan sakit. Sudah sekitar seminggu begitu dan saya obati dengan paracetamol tidak mempan. Lalu setelah paham masalahnya, sang dokter perempuan melihat kondisi gigi geraham saya. Lalu dia menerangkan bahwa ada dua pilihan buat saya. Yang pertama adalah perawatan gigi yang dikenal dengan root canal atau pemeliharaan akar gigi. Karena kalau sudah sakit berarti sudah sampai syaraf dan harus dirawat akarnya. Harganya sangat mahal buat ukuran saya sekitar 8000 THB atau kalau dirupiahkan sekitar 4 juta rupiah. Tapi tidak dibayar sekaligus, dicicil setiap pertemuan dan pertemuannya bisa sekitar lima atau enam kali. Pilihan kedua adalah dicabut. Karena kalau tidak dicabut, bakalan tetap sakit. Saya tanya apakah bisa ditambal? Sang dokter jawab, gak bisa karena sudah sampai syaraf. Padahal kalau mau ditambal harus dibersihkan dulu. Ini gimana mau dibersihkan, giginya sudah sakit tidak diapa-apakan juga. Tapi saya keukeuh ingin ditambal. Akhirnya dokternya memberikan pilihan agar saya diberi waktu untuk berfikir. Dia menuliskan resep antibiotik dan pereda sakit untuk saya. Kalau sudah reda sakitnya saya diminta secepatmya kembali menemuinya.

Mengkonsumsi obat dokter selama tiga hari, sakit giginya hilang. Tapi masih sakit kalau dipakai makan. Hari keempat saya ke dokter gigi lagi. Pas daftar saya ditanya, mau ke dokter siapa. Lah bingung. Saya lupa tidak bertanya nama dokter yang saya temui minggu kemarin. Akhirnya saya bilang, dokter yang minggu kemarin saja. Eh ternyata sang dokter tidak praktik hari itu. Ya sudahlah saya minta dokter lain saja. Dokter yang ini observasi dari awal lagi lalu menanyakan bagaimana kondisi sakitnya. Sambil mengetuk gigi geraham saya. Saya mengaduh kesakitan pas gigi saya diketuk pakai alat uang terbuat dari metal. Sang dokter ternyata memberikan pilihan yang sama dengan dokter sebelumnya. Karena melihat kondisi secara fisik gigi geraham atas kanan saya yang lubangnya sudah besar sekali (lubangnya sudah besar, giginya hanya tertinggal sekitar 40 persen saja). Jadi tidak bisa ditambal. Akhirnya saya menyerah, saya iyakan saja untuk dicabut. Dokternya memberikan saya jadwal dicabut gigi. Ternyata bukan dia yang nantinya akan mencabut gigi saya. Karena penasaran, saya tanya, “Kenapa bukan anda yang mencabut gigi saya?”

Sambil tersenyum dokter gigi itu berujar, “Karena saya belum ahli mencabut gigi geraham anda. Kondisi gigi anda rentan sekali untuk terjadinya ketertinggalan akar gigi, bila saya paksakan untuk mencabutnya. Jadi saya rujuk anda ke dokter gigi spesialis yang berpengalaman mencabut gigi seperti gigi anda.” Saya bengong saat itu mencoba mencerna perkataannya. Lalu saya ulangi. Saya kagum. Ternyata mereka mengedepankan kenyamanan pasien dalam mengobati. Jadi meskipun dia sudah biasa mencabut gigi, tapi kasus saya, lubang gigi sudah terlalu besar, beresiko patah atau tertinggal akarnya, makanya sang dokter tidak bersedia. Karena kalaupun bisa, akan memakan waktu yang lama apabila dicoba dilakukan olehnya. Makanya saya dirujuk ke dokter gigi spesialis. Agar lebih cepat proses pencabutannya.

Alhamdulillah, dokter yang nyabut gigi saya memang terampil. Cuma sebentar, udah beres lagi. Saya dibekali obat dan kapas yang banyak. Diwanti-wanti jangan dulu makan selama satu jam ke depan.

Wawang Yulibrata