Sekolah Bahagia sepanjang Hayat

Kupilih Kamu Untuk Bahagia (1)

Anita bersimpuh di depan ayah dan bundanya. Ia kembali harus menguatkan hati, topik yang dihindarinya akan diangkat lagi subuh ini.

“Menikah itu ibadah Nak, dan juga sunnah Rasul. Jadi sebagai pengikut Rasulullah ya kita harus menikah.” Suara bariton Abinya menyeruak di ruang yang sepi

“Anita juga mau Abi, tapi nggak ada calon suaminya. Nggak punya pacar juga nggak punya teman dekat. Juga nggak ada yang melamar dan mengajak nikah.” Anita menanggapi omongan Abinya dengan tersenyum.

“Umi kok nggak yakin Nak. Ada Aria yang sering mengantarmu pulang, Bimo yang suka main ke sini, Catur yang bolak balik nelpon, dan kalau pulang ke Indonesia malah ke rumah kita dulu. Dahlan, bosmu yang penuh pengertian. Umi ingat mereka semua. Sepertinya mereka layak untuk kamu jajaki jadi pasangan hidup.” Suara halus Umi ikut bergema di mushalla mereka.

Anita menarik nafas panjang. Benar teman laki-lakinya banyak. Apalagi pekerjaan yang ditekuninya masih dalam kategori ranahnya pria. Sebagai lulusan teknik sipil dan sekarang bekerja pada salah satu BUMN pemerintah yang bergerak dalam bidang konstruksi, 75 % isinya laki-laki saja.

“Umi, Anita sangat paham watak teman-teman yang Umi sebut itu. Ahh, jauhlah kalau mau dijadikan suami.” Akhirnya Anita mengeluarkan isi hatinya.

“Lalu kamu maunya yang seperti apa nak?”

“Seperti Abi saja,” Ujar Anita sembari tertawa, “Punya pekerjaan bagus, ngajinya juga bagus, sayang sama keluarga dan bisa membaur dengan semua kalangan.” Sambungnya.

“Kan nggak ada orang yang sama di dunia ini Nak.” Uminya tertawa melihat wajah Abi yang termenung lama.

“Ya..kita tunggu aja Umi, atau Umi carikan aja deh.” Anita melihat sajadah dan mukenanya. Bersiap-siap meninggalkan musholla.

“Benar nih, Umi sama Abi carikan?” Umi menyahut antusias. Kalimat ini yang telah ditunggu sejak lama.

“Boleh, tapi tanpa paksaan ya. Kan yang nanti menjalaninya Nita Umi.” Anita mencium tangan Umi dan Abinya. “Nita mau siap-siap berangkat ya.”

(Bersambung)

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita