Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupinang Engkau dengan Bismillah (1)

Pagi itu, matahari tersenyum malu-malu. Lutfi membuka tirai jendela apartemennya. Pemandangan dari lantai delapan itu tidak berubah. Langit Jakarta begitu kelabu, dipenuhi polusi yang entah bagaimana menguranginya. Ia masih bisa melihat kemacetan di bawah sana. Padahal baru jam 6 pagi.

Dreeeeet, dreeeeet, dreeeeet, androidnya di atas meja makan bergetar. Lutfi mengambilnya dengan cepat. Ibu, tulisan itu terpampang di layar.

“Assalamu’alaikum Ibu, kados pundi kabaripun,?” Lutfi menyapa sang Ibu, dan mengambil posisi duduk

“Sehat. Ayahmu yo sehat. Kowe dhewe piye, Nang?” suara Ibunya jelas dan seperti penuh senyum

“Sehat, Bu.”

“Kowe sibuk ora?”

“Mboten, Bu. Wonten punapa?”

“Ibune Anita nelpon. Anita wis siap yen digolekke calon bojo. Kowe kapan isa nemoni?” Lutfi tersentak. Ia berdiri dari duduk dan berjalan bolak-balik. Bibirnya penuh senyum. “Naaang.” Suara Ibu menyadarkannya.

“Kapan kemawon saged. Anita kan teng Jakarta, Bu.” Lutfi menjawab bersemangat

“Waduuuh, apiklah. Semangat banget kowe, Nak. Ibu lan Bapak dongake, muga lancar, yo…” telpon itu berakhir.

Lutfi menutup telpon. Hatinya begitu buncah, ia kembali melihat langit kelabu dan tersenyum lebar. Anita siap bertemu calon suamiSemoga sesuai doa Ibu, batinnya penuh harap.

Anita adalah gadis dari masa remajanya. Gadis yang ia suka, namun hilang tak tentu rimbanya. Terakhir ia bertemu Anita saat kelas IX SMP. Waktu itu perpisahan sekolah. Berbeda dengan teman perempuannya yang lain, yang memberi dia banyak coklat, Lutfi tidak mendapatkannya dari Anita, dann malah sebaliknya. Ia memberi Anita coklat. Berharap bisa bercakap, namun Anita hanya tersenyum dan diam seribu basa. Lutfi juga kehabisan kata. Mereka berdiri bersisian cukup lama, tidak beranjak, diam, bagaikan dua menekin dipajangan toko

Mengingat hal itu Lutfi tersenyum. Ia masih mampu mengingat wajah Anita waktu itu. Mukanya yang berbentuk hati, dengan rambut yang dikucir kuda serta poni yang menutupi dahinya yang lebar. Wajah yang sekarang mengalami perubahan. Mungkin karena Anita sudah berkerudung. Jika tidak dikirimi fotonya, Lutfi tidak yakin bisa mengenali Anita dengan cepat.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita