Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupilih Engkau Untuk Bahagia (8

Anita memesan gado-gado sedangkan Lutfi memesan soto ayam untuk sarapan pagi. Anita bersyukur dengan penawaran Lutfi untuk menemanimya melakukan inspeksi. Biasanya ia akan berangkat dengan Nina dan Bakar, sopir kantor, yang hari ini tidak bisa karena bentrok dengan jadwal inspeksi Timnya Dani di Bandung. Sedang Nina sendiri minta izin karena bertepatan dengan jadwal kontrol program kehamilan yang sedang dilakukannya.

Sebuah pikiran terlintas di benak Anita, dan ia memandang Lutfi yang duduk di depannya.

“Mau nagih cerita ya?” Lutfi menjawab tanya yang ada dimananya.

Anita tersenyum. Berharap Lutfi menjelaskan ruang kosong yang ada dipikirannya. Biar semua terang dan jelas. Anita tidak suka dengan teka teki ataupun hal pelik yang membuatnya harus mengulik.

“Haryo kan satu perusahaan dengan Mas, dia yang ajak bergabung waktu mas masih jadi PNS. Nah Waktu Haryo nikah, Nina sempat cerita tentang kamu. 2015 ya. Trus nggak pernah ngomongin itu lagi. Tahun itu juga Mas dapat lokasinya di offshore, belum kepikiran juga untuk berumah tangga.”

“2015, Nita belum satu tim sama Nina. Tapi kami satu ruangan. Nina mulai bergabung itu 2017 akhir. Baru setahun lebih dikitlah kami bareng.”

“Mas mulai cari tahu via Haryo itu enam bulan yang lalu. Saat Ibu cerita tentang kamu. Lengkap dengan tempat kerja. Jadi ingat cerita Nina, apakah ini orang yang sama. Ternyata benar.”

“Enam bulan? Tahun lalu? Bulan September tahun lalu dong?” Anita ingat persis. Bulan itu pernikahan Rahmi dan Topo San. Sejak itulah Umi dan Abi membawelinya. Hal yang membuat Anita jadi jarang berakhir pekan di Bandung.

“Ibu dapat telpon dari Umi, awalnya nyari anak Akmil juga. Tapi Ibu cerita kalau Mas juga belum punya pasangan. Informasi tentang kamu lumayan lengkap. Lebih pas lagi ternyata Nina seruangan dan bisa cerita keseharian kamu bagaimana. Mungkin ini jalan jodoh ya?” Lufti tersenyum diakhir penjelasannya. Ia memandang Anita, intens. Pandangan yang membuat Anita jengah. Apalagi omongan terakhirnya.

“Ayo Mas, selesai sarapan kita bisa lebih cepat ya.” Anita mengusir debar yang membuat mukanya panas. Ia fokus menikmati gado-gado dan membiarkan keheningan menemani mereka.

Berarti Mas Lutfi telah mengumpulkan informasi tentang dirinya selama enam bulan. Nina perlu diceramahi juga. Kenapa tidak pernah menceritakan hal ini. Apa dilarang Lutfi? Atau karena semua yang berkaitan dengan dirinya Nina sudah hapal? Anita tanpa sadar meggoyangkan kepalaya.

“Kenapa? Gado-gadonya kepedesan?” Lutfi bertanya sembari menggeser gelas minuman milik Anita.

“Eh, oh. Enggak kok.”Anita mengangkat wajahnya dan kembali menemukan mata Lutfi yang membuatnya tenggelam. Tanpa sadar kembali Anita menggelengkan kepalanya.

“Ayo, minum dulu. Waktu kita masih banyak. Nita di sana jam 10 kan? Jika lancar kurang lima belas menit kita sudah nyampe kok.” Lutfi kembali mendorong gelas minuman lebih dekat.

Anita akhirnya mengambilnya, dan meminum. Ah lumayan, ternyata efek air minum juga bisa menenangkan debar jantungnya. Anita akhirnya tersenyum.

Perjalanan dilanjutkan dan Anita lebih banyak diam. Ia mempelajari kembali berkas proyek dan tahapannya. Memastikan tidak ada bahan yang tertinggal saat evaluasi dengan tim lapangan nanti.

“Mas, kalau nanti Nita di lapangan, Mas Lutfi gimana?” Hal yang tiba-tiba masuk dalam pikiran Anita. Seharusnya ia memikirkan hal ini sebelum menerima tawaran Lutfi.

“Tenang aja. Mas ada janji sama salah seorang Dosen di IPB. Nanti Nita mas antar dulu. Kalau sudah selesai telpon aja.”

“Waaah, perencanaannya matang ya.” Anita spontan berkomentar.

“Harus, karena nggak tahu gimana caranya bisa ketemu. Secara konsultan senior sibuknya minta ampun.” Lutfi kembali bicara diiringi tawa ringannya.

“Ah, nggak sibuk juga. Mas aja yang nggak pernah hubungi.” Uuups, Anita merasa malu dengan komentarnya.

Lutfi mengambil android yang terletak di dashboard mobil dan menyerahkannya pada Anita. “Biar Mas mudah menghubungi kamu, tuliskan nomor telponnya ya.”

Anita menerima android tersebut, “Terkunci.” Ujar Anita dan mengembalikannya kepada Lutfi.

“Gampang kok, 26482.” Lutfi menyebutkan password androidnya. Gawai itu terbuka dan Anita memasukkan nomor telponnya. Dari sana ia memanggil dirinya sendiri untuk bisa menyimpan nomor Lufti.

Meski banyak hal yang membuat Anita penasaran dengan laki-laki disampingnya, namun yang pasti Anita nyaman bersamanya. Ingatan tentang masa remajanya juga menghangatkan hatinya. Keterbukaan Lutfi dan perhatian yang ditunjukkannya juga menyenangkan. Lebih dari itu laki-laki ini dipilih oleh Umi dan Abinya. Orang tua yang sangat dihormati dan disayanginya. Pastilah mereka sudah memikirkan banyak hal sebelum membukakan pintu perkenalan ini.

Saat ini masih banyak yang harus diujinya. Mereka baru bertemu dua kali. Mungkin Lutfi telah tahu keseluruhan dirinya, namun Anita belum. Lagi pula informasi dan pengalaman adalah dua hal yang berbeda. Anita hanya merasa siap untuk melakukan penjajagan lebih lanjut. Semoga ini pilihan yang baik. Anita tersenyum dan mengetikkan nama Lutfi Ahmad Purnomo di androidnya.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita