Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupilih Kamu Untuk Bahagia (7)

Tok –tok – tok. Suara itu membuat Anita menoleh ke arah pintu kamar yang perlahan terbuka. “Lutfi sudah datang tuh.” Ibu tersenyum ,”Emang Umi tahu wajah Mas Lutfi.” Balas Anita

“Tahulah, kan dikirim Bu Nani fotonya.”

“Lho, kok Nita nggak dibagi?” Anita merapikan kerundungnya dan mengambil tas ransel yang biasa digunakannya. “Kenapa informasinya Umi simpan sendiri sih.” Lanjutnya penasaran, dan hanya dijawab senyuman.

Beriringan Anita dan Uminya menuju ruang depan. Benarlah Lutfi sudah ada di sana sedang bercakap-cakap dengan Abi. Lutfi berdiri saat melihat Umi dan Anita mendekatinya. Anita mencatat sikap itu dalam hatinya.

“Kami berangkat ya Umi, Abi.”Anita mencium tangan Umi dan Abinya.

Musik instrumental terdengar pelan, menemani perjalanan mereka. Anita sedang merangkai kata dalam kepalanya, saat Lutfi memecah keheningan mereka.

“Proyek ini target selesainya kapan?” Lutfi melihat Anita sekilas, dan kembali fokus ke jalan raya.

“Akhir Juni. Tapi kontraktor komitmen akhir Mei, semoga mereka tepat janji.” Anita berusaha mengingat-ingat pembicaraan terakhir mereka.

“Sudah ada proyek lain lagi?”

“Ada dua, satu di Palembang. Tapi Nita bukan pimpronya. Hanya konsultan di perencanaan saja. Sudah jalan, jadi tidak lagi menyita pikiran. Paling nanti kalau evaluasi saja terlibatnya. Tim Perencanaannya bagus banget.”

“Waah asyik dong kalau ngecek, bisa jalan-jalan ke Palembang.” Lutfi mengecilkan volume musik.

“Asyik banget, Palembang termasuk kota tertua di Indonesia, Mas ingat kerajaan Sriwijaya kan? Yang menarik sungai Musi yang membelah kota tidak lagi menjadi sarana transportasi seperti cerita sejarah. Sudah pernah ke Palembang?

Anita memandang Lutfi, dan menikmati figure wajahnya dari samping. Cara laki-laki itu membawa kendaraan sangat tenang. Anita ingat omongan Nina, sekretaris yang juga sahabatnya. Ah Nina. Anita menemukan informasi yang kosong tentang perminyakan itu.

“Melamun ya?” suara Lutfi menyadarkannya.

“Eh, Mas Lutfi kenal Nina? Suaminya Haryo. Perminyakan juga lho.” Anita tidak menggubris pertanyaan Lutfi, dan malah menyampaikan rasa penasarannya.

“He-he-he, akhirnya pikiran Nita sampai ke Nina juga ya.” Luffi tertawa pelan.

“Hmmm, berarti selama ini dapat info tentang Nita dari Nina ya? Waaah curang.” Anita mencoba menggali pikirannya.

Seingatnya Nina tidak pernah sekalipun menyebut nama Lutfi dalam pembicaraan mereka. Bahwa Anita curhat kepada Nina, atas situasi lajangnya yang selalu jadi cecaran Umi dan Abi itu sering terjadi. Tapi Nina tidak pernah menawarkan untuk membantu mencarikan pasangan.

“Kok curang?” Lutfi masih tertawa.

“Lha, Anita nggak tahu sama sekali tentang Mas Lutfi, eh masnya punya info lengkap. Sampai jadwal hari ini juga, Umi aja nggak tahu jadwal Nita.” Anita merasa plong, tanya yang menggayut hatinya sudah terungkap. “Sudah berapa lama nyari info lewat Nina?” kejarnya.

“Duuuhh, jangan sewot gitu Nita.” Lutfi tersenyum memandangnya dan kembali fokus ke jalan raya.

Anita memilih diam. Dia memberi waktu Lutfi untuk menceritakan yang seharusnya diceritakan. Rasanya campur sari saat menyadari dirinya jadi bahan observasi seseorang, meski tujuannya mungkin untuk mengenal lebih jauh.

Cukup lama suara musik instrumental menemani perjalanan mereka. Anita masih menunggu Lutfi bercerita.

“Kita istirahat dulu ya, sembari sarapan.” Suara Lutfi kembali terdengar. Ia mengurangi kecepatan mobil dan mengarahkannya menuju rest area.


Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita