Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupilih Kamu Untuk Bahagia (6)

“Bagaimana pertemuanmu dengan Lutfi?” Suara Abi memecah keheningan setelah Anita mencium tangannya. Seperti biasa dialog subuh kembali terjadi.

“Lancar. Kok Umi nggak bilang kalau dia Mas Lutfi yang pernah bareng sama Nita di Salatiga?” Anita memandang Uminya.

“Biar ada kejutan.” Umi menyimpan tawa dalam jawabannya.

“Anita nggak enak Mi, Mas Lutfi tahu banyak tentang Anita, sedang Anita banyaknya terkejut saja. Anehnya lagi dia juga tahu jadwal pekerjaan.”

“Syukurlah berjalan lancar. Apakah dia memenuhi kriteriamu?”

“Ah Abi, cepat sekali menyimpulkan. Anita kan baru kenal.”

“Justru, kesan pertama itu lebih murni lho. Coba pikir sudah sesuai standarmu belum?” Umi ikut mendesak

Anita kembali mengingat pertemuannya dengan Lutfi. Ia tersenyum ketika membayangkan ceklist yang sudah diisinya saat mereka berjumpa.

“Jangan senyum-senyum. Kalau sesuai ditetapkan saja tanggal lamarannya.”

“Ih Umii, buru-buru kali. Tapi orangnya lumayan lah. Bacaan sholatnya enak, la..”

“Lho sudah sempat shalat jamaah?” Umi memutus cerita Anita.

“Sholat Magrib, sebelum makam malam kemarin.” Anita tertawa kecil melihat antusias Umi

“Lanjutkan dulu.” Suara Abi meningkahi pikiran Anita.

“Jadi imam sholat bolehlah Bi, nah jadi imamku ya masih perlu penjajakan lagi.”

“Kan katamu cukup orangnya kayak Abi? Punya pekerjaan, mapan. Ia menikahkan adiknya duluan dan setiap bulan ngasih uang belanja sama Ibunya. Menggagas koperasi simpan pinjam di Yogja sana, saat Ibunya cerita di desa kelahirannya para pemuda kekurangan modal usaha. Nah apalagi? Sudah lebih dari Abimu tuh” Umi mengejar Anita dengan intonasi yang makin tinggi.

“Serius Mi, lebih baik dari Abi?” Abi meletakkan tangannya di pundak Umi dan tersenyum.

“Ya lebih lah, dulu waktu kenal Abi nggak sekeren itu.” Umi menjawab cepat

Anita memegang tangan Umi dan menciumnya. Pasti Umi sudah sangat ingin masa lajangnya berakhir. Anita merasa tidak ada masalah dengan Lutfi. Pertanyaan yang menggelitiknya tentang detilnya informasi yang dimiliki Lutfi barangkali nanti bisa terjawab.

“Anita hari ini ketemuan lagi Umi. Ada inspeksi lapangan, dan Mas Lutfi mau mengantar. Nanti Nita dijemput. Doakan saja tidak ada hal-hal yang krusial yang mengganggu pikiran ya Mi.” ujarnya menenangkan Umi.

“Oh ya? Lutfi akan ke sini? Jam berapa?”

“Waahhh…antusias sekali Umi.” Abi tertawa dan berdiri.

Anita melipat sajadah, juga mukenanya. Saatnya untuk bersiap

“Nita? Jam berapa Lutfi ke sini?”

“Eh, maaf Umi, mungkin jam 8 gitu, Nita harus ke Bogor. Lebih cepat lebih baik sih.”

Anita membantu Umi berdiri. Asam urat yang sudah cukup lama bersama Umi, kadang menyulitkan gerakannya.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita