Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupilih Kamu Untuk Bahagia (5)

“Sudah berapa kali Nita dipertemukan seperti ini?” pertanyaan Lutfi menjadikan Anita kembali menatap laki-laki itu.

“Baru sekali ini, kenapa?” Anita memiringkan kepalanya dan mempelajari raut wajah Lutfi. Anita tidak menemukan garis kanak-kanak dulu. Laki-laki di hadapannya memiliki wajah dengan rahang yang kuat, hidungnya bangir dengan mata tajam dan alis mata yang tebal. Bibirnya penuh, denga rambut ikal yang dipotong pendek. Wajah itu tersenyum membalas pandangannya. Anita reflek membalas senyum itu. Senyum yang tulus. Itu yang rasakan Anita. Bibir dan matanya sama-sama tersenyum.

“Nggak apa-apa. Besok ke lapangan? Jam Berapa?”

“Kok Mas Lutfi tahu?” Anita memandang heran. Umi juga tidak tahu jadwalnya.

“Nita aja yang nggak tahu banyak tentang Mas.” Kalimat itu membuat Anita kembali berdebar

“Yuuk kita pulang, sudah malam.”

Lutfi melipat serbet yang diletakkannya di paha dan menaruhnya di meja. Anita melakukan hal yang sama. Meski ada banyak pertanyaan, Anita memilih diam dan mengiringi langkah Lutfi menuju meja kasir. Sementara Lutfi membayar Anita mengamati sosok itu dari belakang. Apakah ada yang salah? Pikiran Anita mengurut lagi percakapannya dengan Lutfi. Apakah Lutfi tersinggung karena ia tidak banyak tahu tentang laki-laki itu? Kalaupun tidak tahu bukankah pertemuan ini untuk mereka saling mencari tahu? Pikiran Anita berputar-putar. Ada sesuatu yang berhubungan dengan perminyakan yang mengganggunya. Apakah itu. Pasti missnya ditopik itu. Anita memandingi tubuh Lutfi dan mulai mempertemukan dan melepaskan dua jari telunjuknya di depan hidung. Gerakan berulang yang akan dilakukannya saat fokus memikirkan sesuatu.

“Niiii…ta, ngapain?” Mata Lutfi yang tenang dan bertemu dengan netranya. Anita terpaku agak lama.

“Nita?” Suara itu kembali menyadarkannya. Uiiihhh mata itu seperti danau yang tenang. Anita sibuk dengan debar di dadanya.

“Hayuuk Mas, dah selesai?” Anita bergerak cukup cepat dan mendahului Lutfi, tapi hanya sesaat, karena laki-laki itu telah menyusul dan mengiringi langkahnya.

“Mas antar pulang aja yuk, tadi jalan kaki kan Nita ke sininya?”

“Iya, jalan kaki, kok tahu?” Kembali Nita bingung menatap Lutfi yang tersenyum.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita