SEKOLAH BAHAGIA SEPANJANG HAYAT

Kupilih Kamu Untuk Bahagia (4)

“Berarti Nita pindah dari Salatiga setelah lulus SMP ya?” begitu Lutfi membuka percakapan setelah mencuci tangannya di wastafel.

“Iya, Bapak pindah tugas lagi, ke Bandung.”

“Sampai sekarang tinggal di Bandung? Apa sejak itu tidak pernah pindah?”

“Pindah juga Mas. Tapi Ibu sama Bapak memutuskan mengambil rumah di Bandung. Saat Bapak dipindah ke Jakarta, Nita dan Ibu tetap di Bandung, Bapak juga sempat di Palembang tiga tahun, sebelum akhirnya kembali lagi ke Bandung dan pensiun. Bapak Mas Lutfi di Jawa terus ya?”

“Enggak juga. Pernah ke timur malah, ke Makasar. Sempat juga ke Jakarta, tapi terus berakhir di Yogja. Keluarga semua di Yogja. Namanya juga TNI kan, jarang yang terus menerus di satu tempat.” Lutfi memandangi Anita lama.

“Mas Lutfi…Kok melamun?” Anita mengibaskan tangannya di hadapan wajah Lutfi. “Hayooo…mikirin siapa?” lanjutnya sembari tertawa. Anita sudah lebih merasa rileks sekarang. Kegugupannya seperti waktu SMP dulu sudah tidak muncul. Ia juga sudah mampu mengendalilkan perasaannya.

“Mikiran kamu lah. Lama banget untuk kita bisa bertemu lagi.” Jawaban spontan Lutfi membuat Anita kembali deg-degan. Apakah Lutfi seorang yang pintar menggoda? Pikiran itu berkelebat di kepalanya.

“Coba bayangkan, setelah Mas meninggalkan SMP, kita nyaris tidak bertemu. Padahal kita masih di kota yang sama. Anehnya kita kuliah di kampus yang sama lho. Lima tahun dan tidak pernah bertemu. Benar sih beda jurusan, tapi kan Bandung nggak gede-gede amat, apalagi kampus ganesha kan Cuma di situ-situ juga.”

“Lho Mas Lutfi di Ganesha juga? Jurusan Apa?”

“Nita nggak tahu? Atau Umi nggak ngasih tahu?”

“Eh, oh…” Anita gelagapan. Ia mencoba mengingat informasi yang disampaikan Umi tentang Lufti. Adakah tentang latar belakang pendidikan? Ingatannya samar dan tidak jelas. Anita menggelengkan kepalanya, berharap ada informasi yang bisa tergali.

“Baiklah, mungkin Umi lupa ya, bukan Nita yang lupa.” Suara Lutfi kembali menyentuh gendang telinganya. Anita merasa tidak nyaman dengan situasi itu.

“Maaf ya Mas, sungguh kayaknya Umi nggak cerita. Seingat Anita Umi bilang Mas Lutfi anak temannya Abi, umi juga nggak bilang kalau kita sudah saling kenal. Trus Mas Lutfi pernah jadi PNS tapi kemudian keluar dan bergabung dengan perusahaan minyak. Tinggal di Jakarta juga. Eh jangan-jangan Mas Lutfi di perminyakan ya.” Anita mendapatkan pencerahan dari informasi yang dikumpulkannya kembali.

“Iya, perminyakan. Apa lagi yang Nita tahu tentang Mas, Itu saja?”

“Iya, adakah yang lain?”

Suasana hening, Anita kembali melemparkan pandangannya ke taman yang sekarang dihiasi lampu-lampu kecil seperti kunang-kunang. Suasana yang kembali bisa menenangkan hatinya. Ia merasa Lutfi masih menatapnya. Apakah ada yang salah? Pertanyaan itu berulang hadir di kepalanya.

BERSAMBUNG

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita