Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupilih Kamu Untuk Bahagia (3)

“Eh ada, tapi Nita tidak terlalu menyimak. Umi nelpon di jam kerja, jadi agak gimana gitu.”Anita tidak sanggup membalas tatapan Lutfi, dan mengalihkan pandangannya.

“Masih ingat pernah tinggal di Salatiga?”

“Ya, masih lah. Enam tahun lho di sana. Ehh sebentar. Apakah Mas Lutfi yang rumahnya di ujung komplek? Yang kalau ke sekolah naik sepeda?” Anita diliputi rasa penasaran. Ia ingat laki-laki bersepeda yang suka mengiringi langkahnya saat pergi sekolah dulu.

“Iya. Syukurlah masih ingat.”

“Ah…wajahnya beda.” Anita menutup mukanya dengan tangan. Anita bertanya-tanya apakah kulit mukanya memerah?

Lutfi adalah laki-laki pertama yang disukainya. Saat itu Anita masih duduk di Kelas II SMP dan Lutfi di kelas III. Mereka di sekolah yang sama, juga tinggal di komplek yang sama. Seperti teman-temannya yang lain, Lutfi si ketua kegiatan orientasi siswa, menjadi sosok favorit. Anita menyukainya sejak awal masuk SMP dan rasa itu semakin berkembang. Anita mulai terganggu oleh sosok Lutfi sejak saat naik kelas II. Perasaan yang membuat dirinya resah dan menjadi salah tingkah saat didekati Lutfi. Apalagi saat itu Lutfi sendiri menunjukkan perhatian lebih padanya. Suka mengiringi jalannya dengan sepeda saat pulang sekolah. Pernah menawari Anita untuk dibonjeng, tapi Anita terlanjur salah tingkah dan menolaknya. Pernah memberi Anita coklat saat perpisahan anak kelas tiga. Cinta monyet dan masa puber, begitu Anita merasionalkan rasanya. Tentu perasaannya tidak pernah terungkap. Sekarang laki-laki itu duduk di depannya, dengan status sebagai calon suami.

“Nita…” Anita mengembalikan fokusnya.

“Maaf tidak mengenali Mas Lutfi,” sahutnya dan Anita masih merasa wajahnya panas.

“Nggak apa-apa, kita salat maghrib dulu?”

Ajakan itu melegakan Anita. Ia bisa menenangkan hati yang tiba-tiba berdebar. Anita berdiri. Beriringan dengan Lutfi mereka menuju mushola restoran.

Selesai mengerjakan Shalat, Anita mengiringi langkah Lutfi untuk kembali ke meja mereka. Tampak dua orang pelayan sedang menata makanan. Pelayanan yang sempurna.
Anita dan Lutfi uduk di kursinya masing-masing. Anita memperhatikan menu yang dipesannya sudah keluar semua.

“Kita makan yuuk.” Suara Lutfi memecah keheningan diantara mereka. Anita hanya mengangguk dan membuka sendok yang dibungkus dengan kertas. Mengambil tissue dan melap piring makan yang ada di hadapannya. Hal yang sama juga dilakukan Lutfi. Lutfi kemudian mengambil tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Ia memberikannya pada Anita.

“Mas Lutfi aja duluan.” Anita gelagapan dengan perlakuan Lutfi.

“Ayo, Nita ambil duluan.” Sahut Lutfi sembari tersenyum

Anita menyendok nasi dari bakul yang dipegang Lutfi, dan setelah itu Lutfi mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka makan dalam diam. Anita sesekali melirik cara Lutfi makan. Bagaimana Lutfi mengambil lauk yang lebih dekat dengannya, dan tidak menjangkau makanan yang terlalu jauh menjadi catatan tersendiri bagi Anita.

Bersambung…

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita