Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupilih Kamu untuk Bahagia (2)

Hari ini berlalu dengan cepat. Anita yang sudah dua kali menghindari pertemuan dengan Lutfi, sudah tidak bisa lagi menolaknya. Pertama karena memang tidak lagi punya alasan, dan yang kedua Anita harus punya cerita untuk Abi dan Umi atas calon suami yang mereka pilihkan untuknya.

Bergerak menuju lobby kantor Anita melihat jam tangannya. Ia memperkirakan terlambat sepuluh menit dari janji temu yang telah dibuatnya dengan Lutfi. Restoran tempat mereka akan berjumpa hanya berjarak dua gedung dari kantornya, dan Anita sudah memutuskan untuk berjalan kaki saja.

Sore yang berangin, Anita melihat langit dengan awan biru yang tipis. Keindahan yang menyenangkan mata dan ternyata mempengaruhi hatinya. Anita tersenyum pada beberapa orang yang dikenalnya dan melanjutkan langkah kaki yang lebih terasa ringan, dibandingkan saat ia meninggalkan ruang kerjanya tadi.

Memasuki restoran, yang pintunya dibukakan langsung oleh pelayan, Anita menyebutkan nama Lutfi yang memesan meja mereka. Anita diantarkan ke sisi kanan restoran itu, Memasuki ruangan No Smoking. Anita tersenyum. Pilihan yang dibuat Lutfi sesuai dengan impiannya selama ini. Dunia tanpa asap rokok.

Mengikuti arah yang ditunjukkan oleh pelayan restoran, Anita mendekati meja untuk dua orang yang pemandangannya ke arah taman dengan kolam berair manjur di tengah-tengah. Laki-laki bernama Lutfi itu berdiri dari duduk dan menyambut Anita. “Assalamu’alaikum.” Sapanya sembari menangkupkan tangan di dada.
“Wa’alaikumsalam.” Sahut Anita dengan senyum yang seperti begitu gampang keluar hari ini. Anita senang dengan cara Lutfi memberi salam, dan senang saat laki-laki itu menarik kursi untuknya dan memberi isyarat duduk.

Gemericik air begitu menenangkan. Anita memandangi perdu nan hijau dan bunga putih-putih kecil yang menyeruak di atas daun-daunnya. Hatinya senang dan tenang. Ia menengadah dan masih bisa melihat langit, namun warnanya sudah berganti. Sepertinya sebentar lagi Magrib akan datang, batin Anita.

“Niiii…ta?” Suara itu mengembalikan fokus Anita. Ia tidak tahu apakah Lutfi sudah memanggilnya berapa kali.

“Oh, maaf. Tamannya segar.” Sahut Anita.

“Yup benar, lumayan untuk mengurangi lelah setelah bekerja seharian.” Lutfi menjawab komentar Anita. “Kita pesan makan sekarang atau nanti setelah Sholat maghrib?” lanjut Lutfi. Ditangannya sudah ada daftar menu.

“Bagaimana kalau kita pesan sekarang, tapi minta disajikan setelah maghrib?” Anita meraih daftar menu.

“Baiklah, usul yang bijak. Nita yang pilih deh.” Lutfi memencet bel yang merupakan panggilan untuk pelayan restoran.

Sembari melihat dan memilih menu, Anita menceklist daftar calon suami yang ada dikepalanya. Mendahulukan sholat. Yes. Menghargai pendapat orang lain. Yes. Menyerahkan pilihan menu pada dirinya. Yes. Bisa menanggapi apa yang dirasakannya. Yes. Anita kembali tersenyum.

“Nita sama sekali tidak ingat saya?” tetiba kalimat itu menarik Anita dari pikirannya.

“Maksudnya?” Anita balik bertanya sembari memperhatikan Lutfi lebih seksama.

“Apakah Umi tidak menceritakan siapa saya?” ujar Lutfi memandang Anita.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita