Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Surga Dunia itu butuh Komitmen (2)


Aku mengambil alih kemudi mobil dan memasuki arus lalu lintas sore yang padat merayap.

“Emang Tedy siapa? Psikolog ya?” ujarku memecah hening diantara kami.

“Benar, sobat SMA dan tetangga rumah di Bandung. Dianya sudah nikah dan sekarang kerja dan tinggal di Ciputat. Kok mas tahu di psikolog?”

“Mencerna alaur berpikirnya Haryo saja. Tetiba ada isu kita akan screening ke psikolog, lalu meeting dipercepat.” Aku tersenyum menjelaskan. Berarti feeling dan rasioku benar adanya. Tadinya berniat mau menanyakan pada Haryo tentang pertemuan psikolog itu.

“Hmmm, lancar sekali pasamgan itu ngegosipin aktivitas kita ya,” Anita tertawa ringan. “tapi bagus juga tuh, jadi kita tetap bisa berangkat berdua.”lanjutnya.

Haryo selalu membantuku. Sejak zaman kuliah dulu ia adalah seseorang yang dapat diandalkan. Prestasinya juga menonjol. Semoga Nina segera hamil dan mereka lepas dari rongrongan orang tua yang bikin stress.

“Dek, Mas boleh nanya yang agak serius?”

“Jangan Mas, serius itu berat, ngak usah di tanya-tanya.” Anita tertawa dan aku jadi ikut tertawa juga.

“Kalau kita udah nikah, pengen punya anak berapa?”

“Satu? Atau Mas mau berapa?” pertanyaan itu berbalik padaku.

“Kalau satu apa nggak kesepian tuh anaknya? Ngak punya teman main.”

“Kan ada kita. Emang Mas pengen punya anak berapa?”

Aku belum punya jawaban pasti sebenarnya. Berapakah anak yang akan kami miliki? Atau apakah kami akan diizinkan Tuhan untuk punya keturunan. Namun rasanya akan sangat sepi jika hanya punya satu anak. Ayah dan Ibu sekarang di Yogja hanya berdua. Aku sudah tidak serumah dengan mereka. Anita yang tiga bersaudara saja, orang tuanya dimasa tua juga tinggal berdua. Sepertinya tiga juga masih kurang untuk sebuah keluarga.

“Mas? Ditanya kok malah melamun.” Suara Anita mengembalikan anganku.

“Eh, ngebayangin bagusnya punya anak berapa. Enam nggak apa-apa kali Dek.” Ujarku

“Whaaa…t?” Nada suara Anita tinggi namun bercampur geli. “Kenapa nggak sekalian 12 aja, pas selusin.” Sambungnya.

“Eh, boleh juga. Tapi jangan ding, kasihan kamu Dek, nanti memasuki usia yang berbahaya untuk hamil jika 12 anak.” Aku mengkalkulasi dengan cepat. Rasanya enam cukup ideal.

“Punya anak itu tanggung jawabnya dunia akhirat. Apalagi jika dapat anak perempuan. Orang tua harus benar-benar mampu menjaga dan membekalinya dengan baik. Itu kata Abi lho.” Anita terdengar serius.

“Benar juga. Tidak hanya sekedar punya anak ya. Seluruh kebutuhannya harus terpenuhi, lahir dan batin.”

“Benar Mas, jadi pikir-pikir deh. Allah kan bagaimana prasangka kita. Pun kalau kita meminta dengan penuh keyakinan pasti dikasih. Enam sepertinya masih terlalu banyak.”

Aku terdiam mendengar pendapat Anita. Sepertinya masih banyak hal yang harus kugali dari dirinya. Cara berpikirnya, hubungannya dengan Tuhan, bagaimana pandangannya tentang pengasuhan dan pendidikan anak-anak.

“Tedy itu punya biro psikologi dan taman bermain, namun untuk anak berkebutuhan khusus.” Anita tetiba menjelaskan tentang temannya.

“Waah, minat yang tidak biasa ya.”

“Anak pertamanya autis. Itulah yang mendorong dia bikin semacam perkumpulan untuk saling menguatkan dan sharing proses pengasuhan anak berkebutuhan khusus itu.” Anita menunjuk ke jalan di depan kami. “ Belok kanak di pertigaan itu Mas. Rumah Tedy dipojokan.” Sambungnya.

Akhirnya kami sampai juga di rumah Tedy. Sepertinya ini adalah dua kavling yang disatukan. Bangunan sebelah kemungkinan taman bermain yang disebutkan Anita tadi. Ada banyak permainan fisik di halaman rumah seperti di TK-TK.
Saat turun dari mobil, pintu rumah sudah dibuka. Sepertinya kami sudah ditunggu.

“Assalamu’alaikum.” Aku dan Anita beriringan mengucapkan salam, dan dijawab ramah oleh tuan rumah.

“Imran,” laki-laki yang berdiri disamping Tedy, perkiraanku sih karena tidak ada lagi wanita dewasa lain di sana menjabat tanganku dan memperkenalkan dirinya.

“Lutfi.”balasku dan tersenyum pada pasangan itu.

“Ayo, kita makan langsung ya. Anak-anak sudah nggak sabar.” Tedy mengiring kami untuk langsung masuk ke bagian tengah rumah.

Aku memandang Anita, dan ia hanya tertawa. Sepertinya hubungan Anita dan Tedy sangat dekat.

Menuju ruang makan, kami melewati ruang tengah yang cukup luas. Sisi dindingnya tertutup oleh rak buku yang sepertinya ditanam dari bawah sampai keatas, dan isinya buku semua. Pemandangan yang membuat saya cukup terpesona. Apakah semua buku-buku itu mereka baca? Sebuah pertanyaan muncul di kepalaku. Pasti tidak kuucapkan.

Memasuki ruang makan, aku melihat dua anak laki-laki sudah duduk di kursi makan. Pastilah mereka anak Tedy dan Imran. Yang bertubuh besar hanya diam dan fokus pada piring yang ada di depannya. Adiknya tersenyum kearahku dengan mata berbinar.

“Ayo cepat om. Sudah lapar nih.” Suara kanak-kanak itu menerpa gendang telingaku. Keberaniannya menghadapi aku yang baru bertemu kerennya. Biasanya anak-anak suka malu-malu, tapi sikecil ini tidak.

Anita berjalan mendekati mereka dan aku mengikutinya. Anita memberikan tangannya untuk disalami pada anak laki –laki yang lebih tua, namun tidak digubris.

“Panggil dulu Nita.” Tedy yang ada di dekat kami bersuara

“Hallo Andre, apa kabar?” Anita menyapa si sulung. Tedy menyentuhnya.

Aku sama sekali belum pernah bertemu anak autis. Setahuku mereka kesulitan bersosialisasi. Nanti akan kutanyakan pada Tedy. Kulihat Andre merespon ibunya. Matanya sangat tajam dan ia melihat dengan pupil yang membesar. Apakah dia ketakutan pada kami? Aku merasa sedikit deg-degan. Kugelengkan kepala untuk menghilangkan pikiran-pikiran baru yang mengganggu, dan kuciptakan sebuah senyum manis yang menenangkan.

“Andre, ingat tante Anita?” kembali suara Tedy terdengar. Aku memperhatikan hal tersebut. Andre mengalihkan matanya pada Anita, ia menerima uluran tangan yang diberikan Anita dan menciumnya. Khas salaman gaya anak Indonesia untuk orang yang lebih tua. Aku juga mengulurkan tanganku. Andre menarik tangannya dan memutar badan kembali melihat meja makan. Hmmm, sepertinya aku belum diterima.

“Maaf ya Mas Lutfi, Andre butuh penyesuaian lebih.” Tedy mendekatiku dan mepersilakan duduk dengan isyarat tangannya.

Aku menikmati makan malam di rumah Tedy. Suasananya hangat. Sikecil sering berceloteh dan mengomentari ini dan itu. Ia juga tak henti bertanya. Jauh berbeda dengan kakaknya.

Puding sudah disajikan, berarti prosesi makan mala mini hampir selesai. Aku lihat Imran sedang memperhatikan Andre yang menyelesaikan suapan pudingnya.

“Nah, Abang mau ngapain? Baca buku? Atau Nonton?” Imran memandang Andre.
Andre memandang ayahnya. Ia lalu berdiri dan bergerak ke ruang tengah yang tadi kami lalui. Imran juga melakukan hal yang sama.

“Adek juga mau baca buku Bu.” Tetiba sikecil bersuara.

“Ya sudah, sana ikut ayah.” Tedy tersenyum.

“Kita belum kenal sama sekali ya.” Tedy memandangku masih tersenyum. Aku menyukai wajah Tedy. Ia selalu tersenyum. “Mas Lutfi sejak kapan suka sama Anita?” sambungnya, dan aku terkejut. Pertemuan pertama dan pertanyaan langsung seperti itu.

Bersambung

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita