Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Surga itu butuh Komitmen (1)


Aku melihat kalender. Menghitung hari yang telah disepakati. Keluarga dari Yogja sudah menemui keluarga Anita di Bandung. Lamaran telah disampaikan, dan diterima baik.

Sebenarnya aku tidak buru-buru. Memiliki waktu enam bulan atau satu tahun untuk kami saling kenal rasanya cukup. Namun Anita tidak setuju. Ia tidak ada waktu untuk pacaran. Jika memang aku serius sebaiknya disegerakan saja. Tentu saja aku bersyukur dengan hal itu.

Tiga minggu lagi aku akan menikahinya. Menikahi perempuan yang memang selalu ada dalam hati dan pikiranku. Jalanku mendekatinya tidak ada kendala yang berarti. Semua bisa klop dan mudah. Komunikasi kami juga lancar-lancar saja. Aku selalu berusaha cepat memahami keinginannya.

Dreeeet, Dreeeet, Dreeeet,
Androidku bergetar. Anita memanggil. Kusapu layar smartphone itu dan menjawab panggilannya.

“Assalamua’laikum Dek.”

“Wa’alaikumsalam Mas. Hari ini aku ada janji ketemu Tedy. Mau kasih undangan . Mas Sibuk nggak?”

“Jam berapa?”

“Sepulang kantor, jam 5 gitu deh.”

“OK, tunggu aja, Mas jemput.”

“Jangan, kalau Mas bisa, aku kesana, sayang muter-muter kalau Mas yang jemput.”

“Oh, baiklah. Hati-hati ya.”

Pembicaraan kami berakhir. Bagiku Anita itu pas dalam segala hal. Rasionalnya juga asyik. Mungkin karena latar belakang pendidikan tekniknya, sehingga ia cenderung praktis dan realistis.

“Melamun” Pukulan di pundakku memaksaku menoleh, Haryo tersenyum,

“Mending cuti deh, Sejak undangan lo nyebar, bawaannya melamun melulu. Udah nggak sabar ya.” Sambungnya.

“Ah lo bisa aja.” Sahutku kembali fokus pada laporan dari Riau yang sedang kubaca di layar PC.

“Ntar sore bisa ikut meeting ngak? Evaluasi Triwulan II, rencana minggu depan dengan Kantor Pusat.”

“Eh, kok gue nggak tahu?” Aku memeriksa agenda kegiatan mingguan. Duuuh ada di sana. Kok bisa lupa ya?

“Gimana.” Suara Haryo menyentuh gendangku lagi

“Kemungkinan jam 5 gitu selesai nggak? Aku ada janji dengan Anita.”

“Nggak janji. Lo ngomong sama Alex deh, nanti minta kesempatan bicara dulu.”

Aku menarik nafas panjang. Tidak habis pikir kenapa bisa lupa dengan jadwal tersebut. Kututup file laporan yang sedang kubaca, dan membuka bahan monev yang sudah dishare Haryo. Semoga bisa kutelaah dua puluh menit saja.

Menemukan beberapa poin yang perlu didiskusikan, aku membuka chat room dengan Alex. Sepertinya feeling kami sama. Ia menyapaku duluan, dan memintaku ke ruangannya. Memabalas chatnya dengan kata Ok, aku bergerak.
Ternyata di ruangan itu sudah ada Haryo juga Setyo dan Hamdi. Apakah aku terlambat lagi?

“Nah. Calon pengantinnya hadir bos. Gimana? Kita pindah ruangan?” Hamdi menepuk pundakku.

“Yes, ke small meeting room saja.” Alex berdiri dari kursinya dan tersenyum padaku.

Masih belum memahami tujuan kami berkumpul aku mengikuti rombongan menuju ruang pertemuan.

“Katanya ada janji nanti sore ya?” Setyo duduk di sampingku.

“Haryo yang bilang?” tanyaku sembari memperhatikan Alex yang mulai duduk.

“Ya iyalah, siapa lagi. Mau ketemu psikolog katanya.”

“Apa?” aku bingung dengan informasi Setyo. Ketemu Psikolog? Buat apa? Sore nanti aku janji sama Anita kok.

“Ok, guys, kita mulai diskusinya sekarang saja.” Suara Alex mengambil kendali. “Dipercepat, karena calon pengantin kita perlu melakukan screening sebelum pernikahan. Saya setuju. Itu penting banget. Bisa saling mengenal pasangan . Apalagi dengan Lutfi, yang memilih menikah cepat.” Lanjutnya.

Mencoba mengikuti permainan Haryo, aku fokus pada meeting yang dipercepat. Menggambil hikmahnya saja bahwa aku tidak perlu mengubah janji dengan Anita. Entah informasi apa yang disampaikannya pada big bos dan rekan kerjaku, namum itu efektif untuk mempercepat pertemuan kami.

Android di dalam saku celanaku bergetar. Saat layarnya kusapu, pesan Anita via whatsapp terpampang.
[Aku dah menuju kantormu Mas.]

[Ok, hati-hati. Kalau sudah masuk gerbang kabari ya]

[Ok]
Pertemuan untuk persiapan monev TW2 berjalan lancar. Haryo sebagai penanggung jawab sudah menyempurnakan semua bahan tayang. PR tambahan bagiku memastikan wilayah produksi yang menjadi kewenangganku tidak memiliki hambatan apapun dalam pemeliharaan alat maupun kontrol produksi.

“Belum berangkat?” Setyo menghampiriku.

“Ini mau.”jawabku sembari melakukan “clear desk”, kegiatan rutin sebelum kami mengakhiri pekerjaan di kantor. Mematikan semua perangkat elektronik, mengembalikan file pada tempatnya termasuk membuat meja kembali bersih dan kosong.

Aku sudah di lobi ketika pesan Anita masuk,

[Sudah melewati gerbang]

[Lanjut ke lokasi drop off saja, nggak usah parkir]

[Ok]

Aku bergerak keluar gedung menuju lokasi dropp off. Mobil Anita sudah terlihat olehku.

Bersambung

Maulina Fahmilita/ Nulis Bareng