Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupinang Engkau dengan Bismillah (6)
Lutfi tak bisa berhenti tersenyum. Akhirnya, hari yang telah lama tertunda datang juga. Ia akan bertemu malam ini dengan Anita. Di restoran Bhineka. Reservasi telah dilakukannya.

Sore, setelah jam pulang, Lutfi meluncur ke restoran itu, Agak jauh dari kantornya, namun dekat dengan kantor Anita. Lutfi berharap ia datang duluan dari Anita. Nina sudah memberi tahunya, kalau Anita akan jalan kaki dari kantor ke restoran itu. Pilihan bijak, batin Lutfi. Ia akan menawarkan jasa mengantar Anita pulang nantinya.

Ternyata menunggu itu tidak mengasyikkan. Meski hanya lima belas menit, Lutfi merasa sudah begitu lama. Ia menebak, wanita yang didamping pelayan restoran yang bergerak ke arahnya adalah Anita. Uiiih penampilannya sudah jauh berbeda. Anggun dengan busana muslimah dan kerudungnya.

“Assalamu’alaikum” sapa Anita.

“Wa’alaikumsalam.” Lutfi menjawabnya. Tadinya Lutfi ingin bersalaman, namun tidak jadi karena Anita menangkupkan tangannya di dada.

Lutfi bergegas menarikkan kursi untuk Anita duduk. Suasana hening diantara mereka. Lutfi memperhatikan Anita yang sepertinya sedang menikmati keindahan taman yang ada dihadapan meja mereka.

“Anita,” panggil Lutfi, dan hanya dijawab gemericik angina. Anita sepertinya terbawa suasana. “Niii..taa?” ujar Lutfi lagi, dan panggilan itu direspon. Lutfi menarik nafas. Apa jadinya kalau mereka hening terus menerus.

Anita memandang Lutfi, dan Lutfi membalasnya. Bagi Lutfi wajah itu seperti baru. Gadis yang ada dihadapannya jauh berbeda dengan yang disimpannya di kepala berpuluh tahun lalu. Namun kondisi ini tidak mengubah niat yang ada dalam hati Lutfi.

Lutfi lebih banyak mengambil peran dalam pertemuan pertama mereka. Anita yang tidak tahu banyak tentang dirinya, sempat membuat Lutfi sedikit kesal, namun rasa itu luruh begitu melihat Anita yang bingung dengan selorohannya.

“Besok Mas jemput jam berapa?” tanya Lutfi saat mobil sudah parkir di halama rumah Anita.

“Rencana inspeksi jam 10, terserah Mas aja, Anita biasanya selesai sholat subuh dan siap-siap kok” jawab Anita.

Anita memperhatikan rumah yang terasa sepi. Ia baru sadar kalau Ayah dan Ibu ke rumah pamannya.

“Mas, Anita nggak tawari masuk ya, nggak ada orang. Makasih ya.” Anita melihat Lutfi yang mengangguk, dan membuka pintu mobil.

“Sampai jumpa besok pagi.” Suara Lutfi di belakang punggungnya, membuat Anita batal menutup pintu kendaraan itu.

“Baik Mas, Assalamu’alaikum” ujarnya. Mendengar salamnya sudah dijawab Anita menutup pintu mobil dan berjalan ke dalam rumah.

Pagi, setelah selesai sholat subuh Lutfi langsung bersiap. Jarak dari apartemennya ke rumah Anita lumayan jauh. Namun Lutfi yakin akan lancar karena berlawanan arah.

“Assalamu’alaikum” sapanya, pada lelaki yang duduk di teras, dan sedang membaca. Lutfi yakin itu Abinya Anita.

“Wa’alaikumsalam. Waah Lutfi, jadi tinggi begini.”sapa Abi Anita ramah. “Umiiiii, Umiiiiii…” suara Abi terdengan penuh wibawa saat memanggil Umi.

Sesosok wanita dengan gamis coklat dan kerudung krem keluar dari rumah. Lutfi mampu mengingat garis wajahnya yang dahulu. Rasanya tidak banyak berubah.

“Ayoo, masuk Nak Lutfi. Enggak macet kan?”

Umi mengajak Lutfi masuk ke dalam rumah. Mereka melangkah dan diikuti Abi di belakang.
Lutfi dan Abi duduk di sofa di ruang tamu. Umi meninggalkan mereka,katanya mau memanggil Anita.

“Bagaimana pekerjaannya yang sekarang? Lebih padat jadwal dibandingkan waktu PNS dulu ya?” suara Abi mengembalikan fokusl Lutfi.

“Lumayan Abi,” Lutfi memberanikan diri menyamakan panggilannya dengan Anita. Ia melihat tidak ada reaksi keberatan, dan melanjutkannya. “Agak berat kalau tetiba ada perintah dadakan, jadi kudu stand by persiapan berangkat dari kantor.”

“Seperti prajurit juga ya, disuruh berangkat harus langsung siap.” respon Abi.

“Namanya juga kerja sama orang Abi, kalau prajurit mah kerjanya kan sama Negara.” Jawab Lutfi. Ia melihat Umi dan Anita sudah mendekati mereka. Lutfi berdiri untuk menyambutnya. Anita terlihat cantik dan segar dimata Lutfi.

“Kita berangkat mas?” suara itu menerpa gendangnya, dan Lutfi mengangguk.

“Kami berangkat ya Umi, Abi.”Anita mencium tangan Umi dan Abinya. Lutfi mengikutinya.

Mereka diantar keluar oleh ke Abi dan Umi. Umi malah berbisik pada Lutfi untuk mengajak Anita sarapan dulu, yang dijawabnya dengan anggukan sambil tersenyum.

Sambutan hangat Abi dan Umi, serta sikap terbuka Anita kepadanya bagi Lutfi menjadi rangkaian petunjuk. Semoga ini jalan yang dimudahkan Allah untuknya. Untuk Anita, Untuk mereka berdua. Doa Lutfi dalam hati.

Nulis Bareng/ Maulina Fahmilita