Sekolah Bahagia Sepanjang Hayat

Kupinang Engkau dengan Bismillah (5)

“Banyak mengkonsumsi tomat. Madu juga bagus Yok.” Tanggap Lutfi, memperhatikan bundaran-bundaran yang dibuat Haryo dari asap rokoknya.

“Sudah segala, aku malah cape sendiri. Kupikir tak masalah kok kami tak punya anak juga. Cuma Nina kasihan, dia dikejar-kejar ibuku dan ibunya juga. Keluarga besar itu bikin lelah bro,” Haryo memandang Lutfi, wajahnya tidak menyembunyikan kelelahan pikirannya.

“aniwei, Lo udah tahu Anita dan saudaranya berapa banyak, Ibunya berapa bersaudara, Ayahnya keluarga besar nggak?.”lanjut Haryo.

“Kalau keluarga Anita ya tahulah. Dia anak perempuan satu-satunya, dengan satu kakak dan satu adik. Adiknya di Aussie, nikah dengan orang sana. Lagi ambil spesialis kalau gue ngak salah.” Lutfi menghabiskan minumannya, “lo udah selesai?” sambung Lutfi.

“Dikit lagi,” Haryo menunjukkan batang rokoknya yang tinggal sepertiga.”eh lu berat juga tuh. Anak perempuan satu-satunya. Pasti ayah ibunya berharap cepat punya keturunan.”lanjut Haryo kembali.

“Ahh, nggak usah ngomongin yang jauh-jauh bro. ketemu aja gue belum.” Lutfi berdiri. Ia ingin mencuci tangan sebelum kembali ke ruangan. Sembari memberi isyarat pada Haryo. Lutfi meninggalkan sobatnya yang masih menikmati sisa rokoknya.

Lutfi sedang mengupload konsep finish hasil rapat pagi tadi, ketika notifikasi di chat roomnya berkedip. Ia langsung membukanya.

Can u come to my room? Chat dari Alex berkedip di layar, dan Lutfi langsung mengetik Ok.

Sebelum berdiri, Lutfi kembali pada layar monitor untuk melihat proses uploadnya, dan ternyata telah selesai. Tersenyum, Lutfi mengklik tanda send pada layar. Tanggung jawabnya atas meeting tadi pergi selesai, dan Lutfi bergerak ke ruangan Alex.

Tok, tok, tok.

Lutfi mengetuk pintu kaca ruangan Alex. Di sana ada tamu juga yang sudah duduk di sofa. Lutfi mendapatkan isyarat untuk masuk.

“Kenalkan, ini Lutfi, ia maintenance supervisor.” Alex memperkenalkan Lutfi pada tamu tersebut.

“Lutfi Ahmad.”

“Prasetyo Budiman.” Laki-laki tamu Alex tersebut berdiri dan menyambut tangan Lutfi yang terulur.

“Prasetyo ini maintenance supervisor cabang di Riau,” Alex memberikan penjelasan yang dibutuhkan Lutfi. “ia butuh bantuanmu untuk membicarakan beberapa prosedur penggantian pipa, serta kasus spesifik yang terjadi di sana.” Lanjut Alex.

“Siap, kita diskusi di ruang meeting kecil saja?” Lutfi memandang Alex dan Pras.

“Tidak ada waktu, kamu dan Pras harus terbang ke Riau, hari ini juga. Saya sudah diskusi banyak dengan Pras, baca berkas dan masalahnya. Kamu punya pengalaman menyelesaikannya, jadi nanti saya kirim via email.” Alex memandang Lutfi dengan senyum.

“Oh… baiklah. Apakah ada spesifikasi teknis terkait alat yang diperlukan?” tanya Lutfi pada Pras.

“Ada, dan saya sudah mendapatkannya,” Pras tersenyum, “yang belum ada itu ahlinya.”Lanjutnya.

“Pesawat jam berapa?”

“Jam 10 malam, itu penerbangan terakhir ke Pekanbaru.”

Lutfi melihat jam tangannya. Masih jam 4 sore. Ia memperhitungkan perjalanan untuk pulang dan perjalanan ke Bandara.

“Nggak bisa pulang. Kamu harus ikut dulu meeting teknis sama tim Palembang. Mereka Online jam lima sore. Sorry ya.” Alex seolah bisa membaca pikiran Lutfi menghentikan rencana yang sedang dibuatnya.

“Kok? Bukannya itu Setyo?” Lutfi spontan bereaksi.

Alex menatap Lutfi lama, seolah menyampaikan instruksi lewat matanya.

“Ups sorry, Ok bos.” Lutfi membuat gerakan salut sambil tersenyum pada Alex. Ia ingat Setyo tidak ada di tempat. “So, kita ketemu di Bandara saja kalau begitu.” Lutfi memandang Pras.

“Baik Pak. Saya tunggu di sana saja.” Pras berdiri, mengucapkan terima kasih, dan menyalami Alex serta Lutfi.

Sepeninggal Pras, Alex kembali ke meja kerjanya.

“Semoga besok pagi kamu sudah bisa ke lapangan langsung. Bisa error aku, kalau kalian semua ke daerah.” Ujarnya sembari duduk dikursi kerjanya. “ Kembali secepat yang kamu bisa yes.” Alex memandang Lufti. ” Ay ya, berkas Palembang sudah saya kirim.” Sambungnya.

“Baik Sir, saya pelajari sekarang.” Lutfi bergerak cepat.

Meeting online itu berjalan efektif. Alex memandu dengan ketat. Sepertinya ia sangat memperhatikan batas waktu yang dibutuhkan Lutfi, sehingga Lutfi mendapat kesempatan menyampaikan pendapat pertama kali. Terjadi diskusi dan tanya jawab yang detil dan Lutfi memberikan pendapatnya. Meski pertemuan itu belum selesai, Lutfi dipersilakan Alex meninggalkan pertemuan, sehingga bisa laju ke Bandara dengan waktu yang cukup membuat debaran jantung berpacu.

Memasuki ruang tunggu Lutfi sedikit lega. Pras sudah di sana dan memegang dua cup coffe. Saat itulah ia baru sadar bahwa belum mengisi perutnya. Lutfi mendekat Pras, dan menerima gelas kertas yang disodorkan padanya.

“Terima kasih.” sapa Lutfi.

“Kita masih bisa makan Pak, bagaimana?” balas Pras.
Lutfi melihat jam tangannya, Jam 21.10.

“Beli roti aja lah.” Sahutnya.

“Baik Pak. Kita duduk di sana?” Pras menunjuk salah satu kios makanan, dan Lutfi mengangguk.

Menunggu Pras yang sedang memesan roti, Lutfi teringat pembicaraan dengan ibunya tadi pagi. Ia merenung dalam. Apakah karena ia akan ada penugasan ini sehingga Anita juga tidak bisa ditemui? Haryo bilang Anita akan sibuk minggu ini, dan ternyata ia juga harus keluar kota dan mungkin baru bisa kembali Jumat. Lutfi membisikkan harapnya dalam hati. Semua pasti telah ditetapkan Allah.

Bersambung

Nulis bareng/Maulina Fahmilita